Spionase-news.com,–Makassar–Lagu “Ayo Sekolah” dari pelantang bergema di antara riuh suara anak-anak yang berbaris di halaman upacara SDN Kompleks Sambung Jawa pagi itu, Selasa, 17 Juli 2018.

Mereka merupakan 64 murid baru yang akan diuji, apakah sudah mengenal nama-nama gurunya atau tidak. Games mencari guru ini merupakan bagian dari proses pengenalan lingkungan sekolah (PLS), yang dulunya bernama masa orientasi sekolah (MOS).

Sebagai Sekolah Adiwiyata dan Sekolah Ramah Anak (SRA), pihak sekolah mendekatkan anak-anak pada lingkungan hidup sejak awal. Karena itu, pada masa PLS ini anak-anak juga melakukan penanaman pohon.

“Gerakan menanam pohon ini bagian dari membangun tradisi cinta lingkungan pada murid baru,” jelas Ketua Penjemputan Siswa Baru, Hasnawati, S.Pd.

Ketua Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SDN Kompleks Sambung Jawa, Nurlina K, S.Pd, berkisah bahwa anak-anak mudah bersosialisasi karena rata-rata merupakan tamatan TK. Sehingga, mereka sudah terbiasa dengan lingkungan sekolah.

“Ada orangtua yang datang menitip anaknya, lalu berangkat kerja,” cerita Bu Nurlina yang juga guru kelas 1A.

Sri Wahyunaningsih Naim, S.Pd, guru kelas 1B, menuturkan, kali ini anak-anak tidak ada yang cengeng. Semua penuh semangat.

“Bahkan ada yang bertanya, belum pi belajar, Bu?” ungkap Bu Sri sambil tersenyum.

Bu Nurlina mengaku, meski ia terbilang guru senior tapi baru tahun 2017 mengajar di kelas 1. Sebagai guru kelas 1, Nurlina yang menjadi pendidik sejak tahun 1982 itu, punya cerita menarik. Kadang muridnya dengan gaya polos meminta uang jajan padanya.

Kadang, ada juga yang meminta teh manis, yang ia letakkan di meja, jika teh itu dilihat belum diminum. Padahal teh itu merupakan jatah guru.

“Menjadi guru kelas 1 itu harus penuh kasih sayang. Berkomunikasi dengan mereka juga mesti seperti anak sendiri,” kata guru yang sudah mengabdi di SDN Kompleks Sambung Jawa sejak tahun 1995 itu.

Pola pendekatan yang penuh welas asih memang menjadi poin penting SRA. Karena hanya dengan begitu, upaya melindungi anak dari kekerasan, diskriminasi dan perlakuan salah akan tercapai.

Status sebagai SRA ini juga yang menjadi alasan Pak Nasrul memasukkan anaknya, Lutfanul Fatih, di sekolah yang terletak di Jl Baji Gau 1 Makassar tersebut.

Sekolah yang cukup rimbun dengan aneka tanaman ini, tampaknya nyaman di mata
Taufik, yang berdinas di Kesdam XIV Hasanuddin. Masih berseragam lengkap TNI, pagi itu ia menemani anak pertamanya yang tengah makan di bawah pohon beringin depan perpustakaan.

“Saya dan istri mengantar si kecil karena ini pengalaman baru kami punya anak yang masuk SD,” kata Taufik yang beralamat di Jl Cendrawasih.

Kepala SDN Kompleks Sambung Jawa, Fahmawati S.Pd, mengatakan tahun ajaran 2018 ini sekolahnya hanya menerima 64 siswa sesuai kuota. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang jumlah kelas satunya sebanyak tiga kelas. Menurutnya, sistem penerimaan PPDB online ini jauh lebih baik. Karena orangtua bisa melihat proses penerimaannya secara transparan dan real time.

Laporan : HI 008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × one =