Gerakan Aliansi Pemberantas Mafia Tanah Sulsel( GEMFITA Sulsel) Aksi Demonstrasi tegakkan Supremasi Hukum di Pengadilan Negeri Makassar Sulawesi Selatan, Senin (10/12).

Puluhan Mahasiswa yang mengatas Namakan Gerakan Aliansi pemberantas Mafia Tanah (GEMFITA SULSEL).

Melakukan Aksi demonstrasi untuk meminta Tegakkan Supremasi Hukum dalam memberantas mafia tanah di Sulawesi Selatan.

Febriansya H, selaku Jenderal lapangan mengatakan, bahwa kehadiran GEMFITA di pengadilan Negeri Makassar Pada hari senin ini guna melihat adanya kejanggalan kasus tanah yang dimainkan mafia tanah, dan kami meminta kepada hakim untuk berlaku Adil dalam penegakkan Supremasi Hukum Di Sulsel.

Dengan adanya putusan perkara nomor : 1478/Pid.B/2018/PN.Makassar dan Perkara nomor : 1479/Pid.B./2018 PN.Makassar yang melibatkan terlapor atas nama pemilik lahan yaitu Dg.Bayang dengan lokasinya di kampung Bayang.

Yang telah berkekuatan hukum dengan memenangkan perkara melalui Pengadilan TUN sampai PK Mahkamah Agung, dengan melawan Husni Manggabarani yang mengaku memiliki Surat Hak Milik (SHM) dan telah di batalkan oleh BPN kota Makassar, melalui hasil putusan Pengadilan TUN Makassar.

Pengadilan telah menyatakan bahwa Daeng Bayang adalah pemilik Tanah yang Sah.

Menurut Kordinator Lapangan Syamsul, karena merasa tidak puas Husni Manggabarani kembali melaporkan Daeng Bayang ke Polrestabes Makassar, namun karena tidak cukup bukti oleh polisi Kemudian keluarlah SP2HP 4a, Untuk kasus ini di berhentikan.

Lanjut Syamsul, atas ketidak puasan pak Husni Manggabarani dengan kasus tanahnya ini, Akhirnya Pak Husni Manggabarani laporkan lagi ke Polda Sulsel, dan masih dalam tahap proses panggilan saksi-saksi yang sementara berjalan, sedangkan Dg.Bayang yang sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu. Harusnya Perkara di dibrhentikan menurut Undang-undang Pasal 77 KUHPidana.

Kemudian yang sangat aneh dan ironi menurut Syamsul, kenapa perkara ini dialihkan kasus pidananya ke para ahli waris Dg.Bayang, dengan tuduhan asas praduga tak.bersalah dalam pemalsuan Surat-surat dan pengrusakan, dan kemudian ahli waris Dg.Bayang, anaknya di tahan, padahal tidak cukup bukti dalam penahan ahli waris ini, ahli Waris atas nama Bento Bonto dan Wati, Ironinya lagi bahkan ke 15 saksi yang di hadirkan sebelumnya mengatakan bahwa ketiga Ahli waris Dg.Bayang tidak melakukan Pengrusakan di lokasi, malah mereka adalah pemilik lahan yang beraengketa.

Sedangkan Febriansyah, mengatakan bahwa kami melihat kejanggalan dalam kasus tersebut utamanya dalam penegakkan Supremasi Hukum.

Karen adanya kejanggalan kasus ini, maka kami turun Aksi damai, demonstrasi dengan jumlah massa yang lebih besar.

Dan kami berharap kepada para hakim untuk berbuat yang se adil-adilnya dalam memutus perkara ini.

Dan meminta kepada pihak BPN untuk menerbitkan Sertifikat Tanah Daeng Bayang berdasarkan dokumen resmi yang telah di miliki Ahli Waris.

Massa Aksi di terima oleh Hakim Pengadilan Negeri Makassar, yang menangani khasus tersebut yaitu Bambang SH.MH, “Insya Allah kita Akan berbuat se adil-adilnya kepada perkara tersebut, “Tuturnya.

Laporan : Agen 054 Mansyar M.

Editor : Agen 008 HI (Mks)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five − 1 =