SPIONASE-NEWS.COM.- BANTAENG – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang diselenggarakan oleh 12 desa di Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulsel pada 16 Oktober 2019 lalu telah usai.

Namun hasil dari pemilihan tersebut meninggalkan kesan yang memprihatinkan, lantaran diwarnai dengan aksi demo dan pengrusakan terhadap Kantor Desa Biangkeke Bantaeng oleh orang tak dikenal.

Dilaporkan dari tempat kejadian, ada beberapa warga yang merasa belum puas dengan hasil pemilihan, karena calon yang mereka usung kalah dalam pemilihan tersebut.

Akibatnya, usai pemilihan simpatisan pendukung salah satu calon yang kalah menggelar aksi demo ke kantor Dinas PMD, PP dan PA Bantaeng.

Demonstrasi berisikan sikap protes terhadap hasil pemilihan.Ironisnya, pada saat menjelang magrib, sejumlah massa yang tidak dikenali berasal dari kubu lain melakukan aksi anarkis pengrusakan terhadap Kantor Desa Biangkeke, sehingga kantor tersebut tidak dapat digunakan lagi.

Menurut sebuah sumber yang namanya tidak ingin diekspose identitasnya menjelaskan bahwa ada dugaan keterlibatan seorang oknum aparat yang tidak terima kekalahannya dalam pemilihan kepala desa.

“Kalau saya lihat cara pemilihan kepala desa ini adalah cara E-Voting dan alat yg di pakai ada 4 sedangkan calon yg akan di pilih 4 juga diantaranya, Sudirman, Firdaus, Saharuddin, dan Muhardin,” jelas sumber tersebut.

Ia juga menjelaskan latar belakang sampai terjadi kekisruhan usai pemilihan. “Anehnya dalam pemilihan tersebut yang muncul cuma satu gambar dan yang lainnya rusak, tetapi pikiran saya, mungkin ini cuma kesalahan teknis saja dan pemilihan tetap berlangsung.

Hanya saja masih ada beberapa warga yang belum paham dengan cara E-Voting, sehingga tidak merasa puas menerima kekalahan calonnya, akhirnya ada aksi demo dan terjadi pengrusakan,” lanjut sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Menyadari metode yang baru dan belum dipahami oleh masyarakat, sejumlah tokoh masyarakat menghimbau kepada pemerintah Bantaeng agar mempertimbangkan pemberlakuan metode pemilihan dengan sistem E-Voting.

Hal ini guna menghindari potensi konflik akibat ketidakpahaman masyarakat terhadap metode pemilihan dengan sistem tersebut.

Di sisi lain, saat ditemui media Online Nasional Spionase-News.com, Ketua panitia pelaksana pemilihan membenarkan adanya aksi demo di depan kantor Dinas PMD, PP dan PA.

Namun ia mengaku tidak tahu-menahu soal adanya aksi pengrusakan kantor desa, “Mengenai adanya perusakan (kantor desa) saya tidak tau itu,” ungkapnya sambil berlalu.

Semoga permasalahan ini dapat diselesaikan secara damai dan dengan musyawarah bersama, Harapnya.

Laporan : Agen 022 Suarni
Editor : Agen 077 PRM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve + 8 =