Oleh : Antonius Primus

SPIONASE-NEWS.COM,- OPINI – Setelah sekian lama penasaran dengan penantian panjang munculnya Jokowi mengumumkan nama-nama kabinetnya, Kabinet Indonesia Maju, akhirnya publik dibuat lebih terkejut lagi saat pengumuman nama-nama yang sudah ditunggu-tunggu pada 23 Oktober 2019.

Di antara sejumlah nama menteri, hadir sejumlah orang muda yang sudah tidak asing popularitasnya di dunia politik Indonesia dewasa ini. Mereka itu antara lain : Erick Thohir yang pernah menjabat sebagai ketua pemenangan TKN, Wishnutama, Nadiem Makarim yang menjadi menteri termuda, Fajroel Rahman, Bahlil Lahadalia, dan lainnya. Kemunculan nama-nama muda tersebut hendak menegaskan konsisten Jokowi dalam membaca peluang “Bonus Demografi” di mana penduduk usia produktif lebih besar jumlahnya dibanding usia lanjut.

Ini mengisyaratkan harapan baru bagi bangsa Indonesia ini bahwa masa depan bangsa ini ada di tangan generasi muda. Selanjutnya, para menteri muda tersebut ditunggu kreatifitas dan inovasi mereka dalam membuktikan bahwa mereka adalah “peluang” bonus demografi.

Pemandangan lain yang cukup mengejutkan ialah dengan masuknya oposisi di dalam koalisi. Banyak publik dibuat heran saat Prabowo Subianto, Ketua Umum Gerindra yang juga adalah rival Jokowi di Pilpres baru-baru ini, yang juga sangat terkenal memberikan kritik terhadap pemerintahan Jokowi diangkat menjadi menteri pertahanan.

Uniknya bahwa posisi menteri pertahanan Prabowo Subianto diberikan pada institusi yang mana paling dikritik oleh pimpinan Gerindra itu. Masih segar dalam debat Capres, Prabowo begitu frontal mengritisi bahwa sistem pertahanan Indonesia lemah, justeru diberikan posisi untuk memperbaiki dan memimpin sistem pertahanan.

Namun di sisi lain, publik akan bertanya, apakah Gerindra dan oposisi lainnya pengusung Capres Prabowo akan sekritis kemarin, sementara kader unggulan mereka duduk di pemerintahan? Jika melihat strategi Jokowi dalam konteks ini, tentu saja ada pesan yang jauh lebih besar bagi bangsa Ini, terkait menyatunya dua kubu yang bertentangan.

Oleh sebab itu, marilah kita sebagai bangsa, lebih melihat secara positif, bahwa persatuan dan kesatuan adalah kata kunci untuk membangun negeri yang diselimuti oleh banyak perkara radikalisme, terorisme, isu sara dan berbagai hoax yang diciptakan untuk memecahbelah NKRI.

Oleh sebab itu, patut diacungi jempol bahwa Jokowi benar-benar memanfaatkan hak prerogatifnya sebagai presiden yang tidak dapat diintervensi oleh siapa pun. Harapan besar bahwa Indonesia ke depan makin kuat dan maju menuju prestasi dunia.

Sejumlah menteri merupakan wajah lama di periode 2014-2019, yang sangat menonjol dengan prestasi. Artinya hendak menunjukkan bahwa elaborasi dari beberapa generasi dalam kabinet Jokowi mengakomodir seluruh situasi dan kebutuhan bangsa ini.

Harapan besar bahwa, para menteri tersebut bukanlah “pesanan” dan bebas dari berbagai kepentingan politik. Marilah kita lupakan perdebatan tentang oposisi versus koalisi, tetapi penting melihat bahwa hari ini telah bersatunya kubu-kubu yang sebelumnya berseteru untuk memperebutkan kepentingan politik.

Semoga bergabungnya pimpinan oposisi, membawa angin segar dan pesan bagi para simpatisannya untuk meneladani pimpinan bangsa ini dalam mewujudkan NKRI yang bergotong-royong, bersatu, berdaulat, adil dan menuju kemakmuran. Indonesia adalah kita, dan apa yang kita pikirkan dan perbuat merupakan bagian dari kontribusi kita pada masa depan bangsa ini.

Indonesia bukan tentang Jokowi-Prabowo! Buanglah segala sekat, Polarisasi Politik, buanglah segala kepentingan kelompok dan segala egoisme, sebab persoalan bangsa ini sudah sangat besar, terutama isu sara, radikalisme teroris dan hoax yang menjadi musuh besar kita.

*penulis adalah salah satu Redaktur Media Online Nasional Spionase-News.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 + sixteen =