Penulis : Susi Susanti (Mahasiswa PPKn FIS UNM)

SPIONASE-NEWS. COM, – OPINI – Ditetapkannya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan kebudayaan dalam Kabinet Indonesia Maju menjadi perbincangan yang hangat, terutama dikalangan akademisi.

Beragam asumsi menyelundup, hanya karena beliau fokusnya dikenal sebagai pengusaha. Sebab, rekam jejak mendikbud tentu berpengaruh real nantinya terhadap kelangsungan mutu Pendidikan di Indonesia. Hanya karena beliau merupakan pendiri gojek.

Apakah dengan terpilihnya Nadiem Makarim sebagai inisiator utama Pendidikan akan mengharuskan guru untuk melek teknologi ?

Bisa jadi semua hal terkait komponen-komponen Pendidikan akan di ilustrasikan lewat Teknologi. Mengingat era Industri 4.0 ini mengharuskan kita untuk ikut arus, agar tidak ketinggalan derasnya pengunaan jasa berbasis daring saat ini.

Hal ini bisa kita simak lewat penyampaian Nadiem Makarim dalam rapat Koordinasi bersama di Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan berkenaan dengan empat prioritas Mendikbud, salahsatunya ialah pengembangan teknologi. Beliau menyampaikan fokus teknologi akan membantu guru dalam menjalankan roda Pendidikan. Meskipun selalu ada paradigma yang berkembang di masyarakat soal pengembangan teknologi.

Disalahpahami dalam artian Teknologi akan mengganti peran guru. Harap penulis sendiri teknologi yang dimaksud itu untuk memperbaiki kualitas dan kapasitas, bukan untuk menggantikan.

Lantas, bagaimana dengan penduduk yang berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh jaringan? Terobosan Apa kira-kira yang bisa dilakukan seorang Nadiem Makarim dalam membenahi Pendidikan di Indonesia.

Bukankah Konsep pendidikan yang ideal dalam suatu negara , selain mutu Pendidikan yang semestinya diperhatikan juga Pendidikan yang merata ke pelosok-pelosok negeri harus tetap diupayakan.

Untuk apa banyak professor muda, jika di beberapa daerah masih terkenal dengan masyarakat buta hurufnya.

Untuk apa fasilitas teknologi yang serba canggih, jika masih banyak sekolah-sekolah kecil di daerah terpencil yang gedung sekolahnya sudah tidak layak huni.

Untuk apa bergelimang kelengkapan media belajar jika masih ada siswa yang sulit menemui buku-buku matapelajaran untuk dipelajari.

Untuk apa pemuda menuntut Pendidikan hingga ke luar negeri, jika masih banyak warga di daerah sendiri yang tidak memiliki akses untuk memperoleh Pendidikan yang layak.

Seharusnya pemerintah lebih lihai lagi mengamati kendala-kendala Pendidikan di Indonesia. Setidaknya, bisa lebih atraktif menyamaratakan warga, sehingga amanah konstitusi dapat terlaksana sebagaimana harapan masyarakat setempat.

Alakadarnya sistem Pendidikan akan mengikut siapa aktor dibalik dunia Pendidikan kita. Akan selalu ada ide-ide baru dari masa ke masa setiap pergantian mendikbud. Hanya ada dua pilihan, melanjutkan atau benar-benar mengeliminir perangkat Pendidikan sebelumnya.

Namun, telah Nampak sekarang ini mendikbud baru kita telah mengerahkan kebijakan-kebijakan terkait beberapa hal yang menyentuh proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di perguruan tinggi. Seperti halnya asumsi beberapa kalangan, nyatanya betul yang dikatakan mereka bahwa era kita ini akan cenderung bertatap muka pada monitor laptop. Semuanya serba online.

Terbukti, penulis mengalami sendiri setelah menengadah hasil pertemuan dengan pembimbing KKN, beliau menyampaikan isu-isu bahwa laporan KKN yang tidak lagi harus di print, tetapi hanya dipantau lewat website resmi pembimbing.

Hal ini diberlakukan tidak untuk tahun ini, tetapi target tahun depan. Suatu apresiasi spontan terkait kebijakan tersebut, sebab jika betul-betul akan diterapkan berarti pembimbing KKN tidak punya alasan lagi untuk tidak becus memantau anak bimbingannya selama pelaksanaan KKN, karena laporan akan lebih mudah dipantau dari jauhpun dikirim.

Dan memungkinkan tidak akan ada lagi kejadian copi paste laporan. Namun, tentu dibalik itu penulis mempermasalahkan bagaimana dengan mahasiswa yang berada di daerah yang listrik pun tidak ada, apalagi jaringan internet ?

Sangat sulit jika dipikir-pikir, Mengingat wilayah Indonesia begitu luasnya untuk dijangkau, misalnya saja daerah sekitar pulau-pulau dan pegunungan. Kecuali, dari pihak pengambil kebijakan bisa mengatasi ketiadaan sinyal di tempat-tempat tertentu tersebut.

Para pegiat Pendidikan sebaiknya sudah punya kesiapan menghadapi masa kini. Masa yang menuntut kita agar melek teknologi. Penulis ingin menukil juga persoalan nyata yang dihadapi sekolah-sekolah, utamanya di desa-desa.

Belum lama ini telah diberlakukan ujian berbasis computer? Padahal setiap sekolah ternyata belum begitu cukup alat (computer) untuk mengikuti ujian tersebut.

Karena keterbatasan alat ini yang hendak dipertanyakan. Pemerintah seharusnya melengkapi terlebih dulu alat menuju capaian target untuk memajukan mutu pendidikan.

Penulis ambil contoh di SMPN 6 Alla Enrekang hanya terdapat tujuh komputer dari puluhan siswa untuk menghadapi Ujian nanti.

Padahal tempat mereka ujian meminta sekolah menyediakan kurang lebih sepuluh computer untuk melengkapi alat di sana.

Jangankan menghadapi ujian. Di keseharian prakteknya saja di laboratorium komputer, mereka harus bergiliran belajar bagaimana menggunakan komputer yang tepat.

Apakah sudah efektif menerapkan ujian berbasis computer? Maka, lengkapi fasilitas mereka dululah, sebelum menerapkan kebijakan sungguhan.

Daki-daki batin para pegiat Pendidikan semakin menyuarak. Antara khawatir dan malu ketika masih berada pada fase gagap teknologi.

Mereka harus dipaksa melek teknlogi lewat pelatihan-pelatihan yang rutin. Itupun jika disediakan untuk semua guru-guru. Tidak tebang pilih, baik guru PNS, Honorer dan jika mendesak para calon guru semestinya diberikan wadah juga untuk meningkatkan umumnya.

Baru-baru ini telah di informasikan terkait rapor akan berubah menjadi elektronik rapor (e-rapor). Seperti halnya portal mahasiswa. Jadi orangtua siswa dapat lebih mudah memantau peningkatan nilai anaknya lewat e-rapor tersebut.

Dalam pertemuannya dengan perwakilan guru senusantara, Nadiem Makariem yang disebut Menteri progresif itu optimistis menyatakan “ ia terbuka untuk segala masukan demi perbaikan Pendidikan.”

Beliau terkesima terhadap semangat guru , ia pun berpesan bagaimana mungkin siswa bisa pintar jika guru-guru berhenti belajar. Patut kiranya guru terus mengasah kompetensinya. Terlebih lagi kemampuannya dibidang teknologi di masa sekarang.

Apalagi Mendikbud telah menyampaikan akan menggandeng Google sebagai bentuk kerjasama dengan menjadikan Indonesia sebagai prioritas dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang Teknologi.
Untuk segenap guru dan calon guru senusantara, di pelosok gunung, pesisir maupun di kota metropolitan bekali diri dengan kompetensi pribadi, sosial dan keterampilan di bidang teknologi yang baik. Sebab bagaimana siswa, akan selaras dengan pertanyaan siapa gurunya.

Laporan : Agen Subair

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × five =