SPIONASE-NEWS.COM, – ENREKANG – Ikatan Pemuda Mahasiswa Islam (IPMI) Kabupaten Mamasa, mengadakan bazar yang dirangkaikan dengan dialog di Jl. Urip Sumoharjo, Makassar tepatnya di Warkop Liny 01, Rabu (05/02/2020).

Adapun tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut, “Pentingkah Ekologi dan Potret Kerusakan Lingkungan di Indonesia.”

Abd Hafid selaku Ketua Umum IPMI Periode 2017-2020 mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini diadakan untuk melakukan penggalangan dana dalam rangka Mubes IPMI yang ke 5 beberapa waktu yang akan datang.

“Pun juga kegiatan ini sebagai konsolidasi awal gerakan mahasiswa dalam membagun kesadaran lingkungan serta mengajak seluruh mahasiswa Kabupaten Mamasa agar memiliki kepekaan sosial lingkungan yang dapat dikontribusikan pada masyarakat,” tutupnya.

Adapun narasumber yang menjadi pembicara yang diundang dalam kegiatan tersebut yakni ; Muhaimin Ariseno, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan.

Apandi Paserai dari Komunitas Penggiat Lingkungan Kabupaten Pinrang. Kadiroen Amorfati, Penggiat Literasi Makassar (Pustaka Mandoti).

Muhaimin Ariseno mengatakan, mengapresiasi kepada teman-teman pengurus IPMI Kabupaten Mamasa yang sudah menyelenggarakan diskusi publik tentang pentingnya ekologi dan potret kerusakan lingkungan hidup di Indonesia.

“Ini adalah salah satu langkah maju yang dilakukan oleh Organda seperti IPMI. Ruang diskusi seperti ini perlu dilakukan satu bulan sekali, untuk memastikan lingkungan yang kita tempati tetap baik,” ucapnya.

Lanjutnya, “Saat ini, yang kita tahu bersama adalah, kerusakan lingkungan lebih banyak berdampak buruk terhadap kehidupan masyarakat, sedangkan perusahaan mendapatkan keuntungan dari kegiatan yang mereka lakukan seperti aktivitas reklamasi pantai, tambang ekstraktif dan perluasan perkebunan monokultur (sawit),”

“Tidak ada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat di tengah kerusakan lingkungan hidup. Artinya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat akan ada, jika lingkungan itu baik,” tutupnya.

Apandi menandaskan bahwa sesungguhnya kebijakan yang di terapkan oleh negara hari ini tidak jauh berbeda dengan kebijakan yang dilakukan oleh kolonialisme, pada tahun 1930.

“Di mana penjajah pada saat itu memaksakan rakyat menanam komoditi tertentu demi kebutuhan pasar global, tanpa memikirkan corak corak produksi kebutuhan rakyat,” tuturnya.

Lanjut Apandi, “Hari ini negara sering melakukan sosialisasi sawit, seolah-olah sawit merupakan solusi jaminan kesajahteraan rakyat semetara analisnya adalah kepentingan pasar global.Selain daripada itu membabi butanya sektor pertambangan yang menyerobot lahan-lahan pertanian warga, merupakan beberapa kebijakan yang diterapkan oleh negara tidak pro rakyat,” tutup Pemuda Penggiat Lingkungan tersebut.

Sementara itu Kadiroen menambahkan bahwa, Pemerintah dalam menyusun kebijakan tidak pernah melibatkan masyarakat.

“Sedang itu kepentingan investasi pengusaha dan penguasa kerap kali menjadikan rakyat sebagai korban atas kebijakan-kebijakan seperti industri pertambangan, reklamasi, penggusuran sebagai dalih pembangunan kota dan konsesi perkebunan sawit, sehingga tidak sedikit masyarakat yang terdampak bencana ekologi, bencana ekonomi, dan bencana sosial,” tegasnya.

“Koneksi gerakan mahasiswa, kaum tani, kaum buruh, kaum miskin kota dan masyarakat pedesaan harus di bangun secara kolektif untuk melawan arus kebijakan yang tidak pro terhadap kebutuhan-kebutuhan rakyat,” tutup Kadiroen yang juga Alumni Ilmu Pemerintahan Unismuh Makassar.

Laporan : Agen 054 MM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 4 =