SPIONASE-NEWS.COM,- OPINI – Belakangan ini dunia pendidikan Indonesia diwarnai dengan kehadiran pemikiran-pemikiran praktis Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim yang adalah seorang pengusaha dan pendiri Gojek.

Hampir semua media baik online maupun cetak memberitakan gebrakan yang ingin dicapai oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di bawah kendali Nadiem.

Dalam sejumlah pertemuan ilmiah atau orasi ilmiah yang disampaikan oleh Nadiem, menegaskan beberapa poin pokok yang sering ia “lemparkan” untuk perubahan dunia pendidikan di Indonesia.

Beberapa poin menarik untuk disimak dan direfleksikan oleh seluruh institusi pendidikan, antara lain:
1. Guru/dosen adalah penggerak bukan sekedar pengajar. Penggerak dalam konteks menciptakan inovasi-inovasi dalam pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan zaman, perkembangan era revolusi industri 4.0. Hal ini ditekankan Nadiem pada hari Guru Nasional tahun ini, yakni perlu membangun paradigma: “Guru Merdeka” dan “Guru Penggerak”. Guru merdeka artinya bahwa Guru perlu diberikan kesempatan untuk menggunakan otoritas intelektualnya dalam menciptakan secara kreatif teknik-teknik pembelajaran yang merangsang daya nalar dan kreatifitas peserta didik. Artinya perlu ada otonomi khusus bagi guru yang tidak boleh diatur atau terikat pada regulasi. Menurut Nadiem, banyaknya guru yang tidak mampu berinovasi disebabkan karena terlalu dibebankan oleh regulasi, kebijakan aturan pemerintah yang menurutnya tampak kaku.
Adagium “Guru Penggerak” dalam konteks kekinian yang digagas Nadiem, mempertegas “arah gerak” dari sistem pembelajaran yang harus menunjukkan “perubahan”. Suatu “gerakan” jika tidak menghasilkan “perubahan” belum dapat disebut sebagai “gerakan” dalam arti esensialnya.

2. Kualitas seorang tidak ditentukan oleh latar belakang akreditasi institusi pendidikan, ijazah dan gelar akademik. Era revolusi industri 4.0 mengedepankan serapan tenaga kerja yang ditentukan dari skill, kompetensi dan atau ketrampilan di lapangan, yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi, bukan ijazah dan atau gelar akademik, guna membantu dalam mempercepat penempatan lulusan sehingga meningkatkan tingkat employability (keterserapan di industri) dan bekerja sesuai dengan kompetensi yang dikuasainya.

3. Orang sukses ialah orang yang mampu mengembangkan pengetahuannya ke dalam berbagai bidang kehidupan, bukan hanya dalam satu bidang. Selain memiliki kompetensi utama, seorang siswa/mahasiswa harus memiliki kompetensi tambahan yang dapat diandalkan di lapangan pekerjaan.
4. Indonesia saat ini mengalami krisis literasi dimana kecintaan terhadap kreatifitas dalam pembelajaran rendah. Banyak siswa/mahasiswa yang rajin masuk kelas, namun belum tentu ia belajar.
5. Perlunya membangun paradigma “kemerdekaan belajar” bagi para peserta didik. Paradigma “kemerdekaan belajar” hendak mempertegas hak-hak dasar peserta didik dalam mengelaborasi kemampuannya, mengolah otoritas intelektualnya tanpa ragu dan atau kaku, bahkan tidak perlu “harus” “terikat” oleh peraturan yang berlaku. Prinsipnya ialah bahwa segala eksplorasi ilmu pengetahuan, harus selalu berada dalam konteks etis, yakni dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan ilmiah.

Gagasan-gagasan sederhana Nadiem Anwar Makarim ini pada hakikatnya sudah ada dalam karakteristik dunia pendidikan Indonesia, hanya saja bahwa hal itu tidak terkoordinir dengan baik dan bahkan tidak maksimal dieksplorasi disebabkan juga karena regulasi yang diatur dalam peraturan tentang pendidikan di Indonesia terlalu banyak dan tumpang tindih. Hal inilah yang membuat institusi pendidikan, terutama para guru/dosen menjadi tidak fokus dalam mencapai luaran pembelajaran yang kreatif-inovatif dan berkarakter.

Bayangkan saja dalam dunia pengembangan pengajaran ke dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat masih boleh terbilang rendah. Ini dapat dilihat dalam luaran berupa publikasi artikel jurnal dan karya ilmiah lainnya, baik dalam skala nasional dan internasional masih rendah. tahun 2018, sebanyak 3 Perguruan Tinggi Indonesia tercatat menduduki peringkat 500 besar dunia versi QS World Uuniversity Ranking (QS WUR), yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung, dengan persentase capaian kinerja sebesar 75%.

Rata-rata SDM unggul yang dilahirkan dari dunia pendidikan di Indonesia berasal dari peserta didik yang memang sudah cerdas dari dirinya (“kecerdasan bawaan”/kecerdasan alami). Sementara peserta didik yang membutuhkan lebih banyak proses untuk menjadi cerdas, justeru sangat banyak, dan rata-rata merupakan penduduk usia produktif dari keluarga yang ekonominya rendah atau kurang mampu. Dalam konteks ini, “Kemerdekaan Belajar” belum sungguh-sungguh merata di level masyarakat kelas menengah ke bawah. Kenyataan ini perlu menjadi bagian dari refleksi bersama para pemegang kebijakan dan pemangku kepentingan dunia pendidikan untuk membangun paradigma yang sama mendukung gebrakan-gebrakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim. Harapan besar bahwa, Indonesia dapat mengejar ketertinggalan, khususnya di dunia pendidikan untuk mampu bersaing secara intelektual dan inovatif dengan negara-negara lainnya.

Sosok Nadiem Anwar Makarim merupakan representasi dari perwujudan kerinduan akan kemajuan pendidikan di Indonesia. Marilah membangun sinergi dalam mewujudkan kecerdasan bangsa yang sesuai dengan amanat undang-undang dasar negara Republik Indonesia tahun 1945, yakni Pembangunan manusia yang memanusiawi, dibangun di bawah ranah sebuah bangsa yang cerdas generasinya.

*Penulis : Antonius Primus adalah Redaktur Media Online Nasional Spionase-News.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 2 =