Rukaya: “Sebagai dosen, saya menjalankan amanah untuk menegakkan aturan dan nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman di lingkungan kampus”

Rukaya, S.Pd., M.Pd

SPIONASE-NEWS.COM,- BARRU – Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Barru, Rukaya, S.Pd., M.Pd., angkat bicara mengenai polemik yang berkembang setelah dirinya menegur mahasiswa dalam rangka penegakan tata tertib kampus yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam.

Bu Rukaya menegaskan bahwa tindakan yang dilakukannya merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan profesional seorang dosen terhadap mahasiswanya dalam menjaga kedisiplinan, akhlak, serta nilai-nilai yang menjadi identitas perguruan tinggi Muhammadiyah.

“Sebagai dosen, saya menjalankan amanah untuk menegakkan aturan dan nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman di lingkungan kampus. Apa yang saya lakukan semata-mata adalah hal yang merupakan bagian dari tanggung jawab akademik dan moral yang saya emban,” ujar Bu Rukaya saat memberikan keterangan kepada media ini, pada Selasa (21/07/2026).

Menurutnya, ia menghormati setiap bentuk evaluasi terhadap kebijakan maupun tindakannya. Namun demikian, ia berharap seluruh proses penyelesaian persoalan dapat dilakukan secara objektif, proporsional, dan tetap menjunjung tinggi prinsip keadilan.

Di tengah polemik yang berkembang, Bu Rukaya mengaku mengalami tekanan di lingkungan kerjanya. Ia menyebut dirinya dikeluarkan dari sejumlah grup WhatsApp yang selama ini menjadi media koordinasi akademik, setelah persoalan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial kampus.

Selain itu, Bu Rukaya juga mengungkapkan adanya percakapan di grup internal dosen yang menurutnya bernada menyudutkan dirinya. Salah satu pesan yang ia soroti berbunyi, “Hebatx ini prof, Rukaya tidak berhenti bicara di media, hancurkan kampus sendiri, Trimksh pencerahannya ibu prof.”

Menurut Bu Rukaya, penggunaan kalimat tersebut tidak hanya merupakan kekeliruan penyebutan gelar akademik, tetapi juga ia nilai sebagai bentuk perlakuan yang tidak menghargai martabatnya sebagai sesama tenaga pendidik.

“Saya berharap perbedaan pandangan tidak disikapi dengan tindakan yang mengarah pada pengucilan ataupun pembullyan di lingkungan akademik,” katanya.

Di sisi lain, Bu Rukaya menyampaikan bahwa dirinya saat ini tengah menjalankan program penelitian yang memperoleh pendanaan melalui Program Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Ia berharap polemik yang terjadi tidak menghambat kontribusinya dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, Ungkapnya.

Bu Rukaya juga mengapresiasi langkah Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kabupaten Barru yang telah menyampaikan laporan resmi terkait persoalan tersebut. Menurutnya, keterlibatan organisasi otonom Muhammadiyah merupakan bagian dari upaya menjaga marwah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) melalui mekanisme organisasi.

Ia berharap Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan dapat menindaklanjuti aspirasi tersebut secara bijaksana, termasuk melakukan penelaahan terhadap mekanisme penegakan disiplin serta perlindungan bagi dosen yang menjalankan tugasnya sesuai ketentuan dan kode etik.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pimpinan Universitas Muhammadiyah Barru belum sempat memberikan keterangan resmi terkait pernyataan Bu Rukaya mengenai dugaan pengeluaran dirinya dari grup WA koordinasi akademik maupun kekhawatiran terkait keberlanjutan statusnya sebagai dosen. Redaksi media nasional ini masih membuka ruang bagi pihak universitas untuk memberikan hak jawab dan klarifikasi atas permasalahan tersebut.

Laporan : Agen 026 Haedir/ Agen 025 M. Rijal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here