SPIONASE-NEWS.COM,- OPINI – Memainkan irama politik propaganda modern dengan memainkan isu yang diterima dimasyarakat. Jadi teringat cerita Joseph Goebbels, seorang yang dijuluki Bapak propaganda dari diktator “Kehidupan” Keseniannya selama 12 tahun.
Dengan ide-ide cemerlangnya Goebbels awalnya mempropagandakan lewat seni dan budaya sehingga orang dengan mudah mengikutinya. Selain itu Goebbels juga dikenal dengan tekhnik Big Lie, yaitu Kebohongan Besar.
Dengan melakukan Tekhnik itu
Caranya sangat gampang, cukup dengan membuat kebohongan yang diulang secara terus menerus, ketika kebohongan itu masuk dalam pikiran seseorang, maka seseorang itu akan mempercayai nya dan akan menjadi suatu kebenaran.
Dalam kutipan Goebbels “Kebohongan yang dikampanyekan secara terus menerus kepada publik, akan membuat publik percaya bahwa kebohongan tersebut adalah suatu kebenaran “
Dan jika diperhatikan dengan metode hypnosis dengan teori Goebbels ini, ketika dihubungkan dengan pemerintahan Jokowi, ada beberapa pihak maupun kelompok yang tidak menginginkan Jokowi menjadi presiden dua periode. yang berhasil mempraktekan doktrin tersebut.
Salah satu contoh dimasa pemerintahan Jokowi membuat isu hoax lalu di publikasikan di sosial media, seperti Facebook,whatsapp, dan media abal-abal lainnya.
Sedikit contoh propaganda-propaganda modern yang dilakukan oleh sekelompok orang. yang kadang membuat Kegaduhan dinegeri ini tetapi tidak bisa bertanggung jawab akan hal itu.
1. Jokowi PKI, Isu jokowi PKI sebenarnya sudah lama, tetapi menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia ketika terbit buku “Jokowi Undercover” Buku itu seakan memaksa Jokowi sebagai PKI. Akibat buku itu, mantan kepala BIN, Hendro Priyono angkat bicara kalau PKI sudah bubar.
Hendro Priyono menegaskan dirinya telah terbukti mempertaruhkan nyawanya dalam menghadapi PKI.
Bukan cuma gembar-gembor musuh yang kami hadapi, 1966-1974 adalah pasukan Bara (Barisan Rakyat) PKI gaya baru yang dipimpin oleh Sayyid Ahmad Sofyan Al-Baraqbah.
Yang berfusi dengan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dibawah pimpinan trio Lim Fo Kui, Bong Kie Chock, dan Bong Hon. Pasukan ini berpusat di hutan belukar perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia,” ujarnya
“Sejak saat itu sampai sekarang, saya tidak pernah tahu bahwa Presiden kita adalah PKI. Karena, setahu saya, ketika PKI dibubarkan, dia (Jokowi) masih bayi. Saya juga tidak tahu bahwa setelah saya pensiun begini lama muncul PKI Gaya Baru lagi.
Aneh, jika saya sekarang dituduh menyembunyikan informasi bahwa Jokowi adalah PKI,” katanya.
Dan pada akhrinya tidak ada bukti yang kuat tentang jokowi itu PKI.
2. Jokowi Pro Syi’ah
Isu ini muncul ketika Jokowi berkunjung ke Iran, sedangkan Iran merupakan Sekutu Suriah, Bashar Al -Assad dan Rusia untuk membasmi terorisme di Aleppo.
Lagi-lagi ada beberapa kelompok yang menuding dan menyebarkan isu kalau jokowi pro Syi’ah, karena berkunjung ke Iran dan mengaitkan konflik di suriah.
Ternyata kunjungan Jokowi ke Iran adalah membangun kerja sama antar 2 negara dengan menghasilkan kerjasama disektor perdagangan.
Hasil kesepakatan berikutnya adalah, Iran akan membangun Pembangkit Tenaga Listrik & Kilang Minyak di Indonesia. Sebaliknya, Pertamina akan berinvestasi untuk mengelola Ladang Minyak Iran yang memiliki cadangan minyak sangat besar.
“Dikutip dari Press release KaBiro Pers, Media & Informasi Sekretariat Presiden”
3. 10 juta TKA China di Indonesia.
Isu ini paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan paling banyak diperbincangkan disosial media.
Jokowi pernah menegaskan pada sambutannya, beliau pun blak-blakan akan hal itu. Jumlah total pekerja asal China yang ada di Indonesia saat ini hanya berjumlah 21.000 orang, itupun tidak kerja terus-menerus. Menurutnya angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah TKI yang ada di negara lain.
“Itu mereka kerja masa turbin, masa smelter, saya cek kok, itu memang kita belum siap melakukan itu, sehingga mereka harus disini 3 bulan sampai 6 bulan memasang ini.” Terang jokowi, seperti dikutip dari situs.” Kompas.Com
Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri saja mengatakan bahwa TKA ilegal ada, tapi isu TKA China itu sudah di-framing secara politik.
Ketika Dirjen Imigrasi bilang 1,3 juta turis China masuk Indonesia tahun ini, langsung diplesetkan menjadi TKA China.
Penangkapan beberapa TKA ilegal di daerah oleh aparat pemerintah langsung digoreng jadi ribuan, bahkan jutaan. Dan Inilah yang sesungguhnya bikin resah masyarakat akan isu isu seperti itu.
Gaya propaganda modern ala Goebbels itu, ketika kita masyarakat Indonesia tidak cerdas dalam menerima informasi bakalan berakibat fatal bagi negeri kita ini.
Miris memang buat mereka yang hanya bisa membuat isu hoax untuk memprovokasi masyarakat, tetapi tidak bisa menciptakan karya untuk negeri ini.
Makassar, 26 April 2019
Masyarakat Indonesia
Oleh : LUKMAN TOMADDESA

























