Penulis : ADITYA SYAM
(Ketua Umum HPMM Komisariat UNM)





SPIONASE-NEWS.COM,- OPINI –  Dalam tubuh organisasi, konstitusi bukan sekadar kumpulan pasal yang disimpan dalam dokumen kelembagaan, melainkan fondasi yang menentukan arah, batas, dan legitimasi setiap tindakan organisasi. Atas dasar itu, pelaksanaan Intermediate Training oleh Pengurus Pusat Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (PP-HPMM), yang ditempatkan sebagai forum tertinggi dalam jenjang pengaderan di tingkat Pengurus Pusat.

Seharusnya menjadi cerminan paling nyata dari kepatuhan terhadap AD/ART, keterbukaan tata kelola, dan kepastian prosedural. Namun, ketika Intermediate Training tersebut disebut-sebut sebagai kado dari PP-HPMM untuk Milad HPMM ke-8 dekade, kita perlu mengajukan pertanyaan mendasar: apakah pengaderan merupakan hadiah dari sebuah kepengurusan, atau justru kewajiban konstitusional yang memang harus dilaksanakan oleh organisasi?

Intermediate Training sebagai kado mungkin terdengar indah dalam narasi perayaan, tetapi tidak boleh menggeser pemahaman tentang hakikat pengaderan itu sendiri.

Jika HPMM menegaskan dirinya sebagai organisasi yang berlandaskan pengaderan sebagaimana termaktub dalam konstitusinya, maka pelaksanaan pengaderan bukanlah kemurahan hati PP-HPMM, bukan pula prestasi istimewa yang harus diposisikan sebagai pemberian kepada organisasi. Ia merupakan tanggung jawab kelembagaan yang melekat pada mandat kepengurusan.

Persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian adalah kepastian prosedural dan keterbukaan dalam proses seleksi hingga penetapan kelulusan peserta.  Setiap tahapan pengaderan harus memiliki standar yang jelas, diterapkan secara konsisten, serta dapat diuji berdasarkan aturan yang berlaku.

jika Intermediate Training ditempatkan sebagai forum tertinggi pengaderan di tingkat PP-HPMM, standar transparansi, objektivitas, dan akuntabilitasnya semestinya lebih tinggi pula. Semakin strategis kedudukan sebuah forum, semakin besar tanggung jawab penyelenggaranya untuk memastikan bahwa setiap keputusan dapat dijelaskan secara rasional dan konstitusional.

Suara kritis dari berbagai jajaran HPMM, telah disampaikan oleh beberapa jajaran, juga tidak sepatutnya diperlakukan sebagai gangguan terhadap stabilitas organisasi. Suara-suara tersebut perlu dijawab melalui ruang dialog, klarifikasi terbuka, dan evaluasi yang berlandaskan konstitusi.

Banyaknya kritik memang tidak otomatis membuktikan seluruh dugaan benar, tetapi mengabaikannya tanpa pemeriksaan justru berpotensi memperlebar jarak antara kepengurusan dan kader.

PP-HPMM perlu menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah kemampuan mempertahankan citra, melainkan keberanian mempertanggungjawabkan keputusan. Jika seluruh mekanisme telah dijalankan dengan benar, keterbukaan akan memperkuat legitimasi kepengurusan. Namun, apabila ditemukan penyimpangan, koreksi harus dilakukan secara institusional sesuai AD/ART dan ketentuan pengaderan yang berlaku.

Dalam organisasi yang menjunjung nilai kolektif, tidak ada kepentingan personal yang boleh ditempatkan di atas kepastian aturan bersama.

Pada akhirnya, HPMM tidak boleh membiarkan konstitusi hanya menjadi slogan di podium, sementara kepastian prosedural kehilangan tempat dalam praktik pengaderan. Forum tertinggi pengaderan seharusnya menjadi ruang pembuktian bahwa HPMM mampu melahirkan kader melalui proses yang adil, transparan, dan berintegritas.

Sebab, kaderisasi yang kehilangan kepastian akan melahirkan keraguan seleksi yang kehilangan keterbukaan akan menumbuhkan kecurigaa dan kepengurusan yang mengabaikan suara kritis berisiko kehilangan kepercayaan.

Milad delapan dekade semestinya menjadi momentum memperkuat tradisi intelektual dan kedewasaan organisasi, bukan sekadar panggung untuk merayakan keberhasilan yang masih menyisakan pertanyaan.

Organisasi ini memiliki sejarah, cita-cita, dan tanggung jawab terhadap masa depan Massenrempulu, setiap praktik penyimpangan dari prinsip konstitusional harus berani diperiksa dan setiap keputusan harus siap dipertanggungjawabkan. AD/ART harus menjadi panglima, prosedur harus menjadi kepastian, keterbukaan harus menjadi budaya, dan pengaderan harus tetap menjadi ruang pembentukan kualitas bukan ruang reproduksi eksklusivitas.

Sebab, kebesaran HPMM tidak diukur dari seberapa megah forumnya diselenggarakan atau seberapa indah ia disebut sebagai kado milad, tetapi dari seberapa teguh organisasi menjaga prinsip ketika kepentingan mulai menguji integritasnya.

HPMM Akan tumbuh dan mekar bukan karena PP HPMM Melainkan Bagaimana Jajaran HPMM bersinergi Bersama. Kita berbeda dalam segala hal namun kita tetap satu dalam darah, cita dan cinta.

Laporan Agen : 090 M. Rijal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here