SPIONASE-NEWS.COM,– PAREPARE – Dalam upaya pelestarian kebudayaan warisan daerah Bugis, suatu komunitas pemerhati dan pencinta budaya, SIMA’TANA di kawasan Ajatappareng dilantik oleh MATOA CENRANA LUWU atas restu Topapoata E DATU LUWU XL, Sabtu (28/12/2019).

Acara pelantikan tersebut berlangsung pada Sabtu (21/12/2019) baru-baru ini. Ini adalah komunitas kebangsaan yang lahir dari semangat persaudaraan pribadi-pribadi yang dijiwai kearifan lokal Bugis. Mereka yang bangga dengan seorang puteri yang terlahir di tanah ini, bernama We Sima’tana Arung Tellu Latte’ Sidenreng.

Lontara Sidenreng menuliskan “Jika beliau mandul, namun keluhurannya senantiasa membuahkan keturunan yang menyatukan visi dan misi kebaikan pada hari ini.”

Acara pelantikan dan pengukuhan ini dihadiri oleh YM. Puetta Andi Syahrir Pawiccangi (Petta Nippong) dan YM. Puetta Andi Sima’tana Makkasau. Suami isteri sesepuh agung Kerajaan Sidenreng ini terbangkitkan semangatnya di tengah-tengah para generasi SIMA’TANA yang mengelu-elukan kehadirannya.

Acara pelantikan diisi dengan prosesi yang berlangsung khidmat dalam ritul “sitelli sumange'”.

Matoa Cenrana memasukkan pangkal tongkatnya pada air jernih dalam bokor, diikuti para SIMA’TANA yang mencelupkan badik, keris dan cincinnya masing-masing. Selanjutnya mereka mengucapkan “nganro” dengan penuh penghayatan.

Selanjutnya, Matoa Cenrana meminum air rendaman aneka “benda pribadi” itu, disusul para SIMA’TANA. Terakhir, Ketua Umum terpilih yaitu: Anto Baret Daeng Mattoasi dan Wakil Ketua Umum Budhi Pare Daeng Mattara Sekretaris Umum Andi Sandy Pratama To Cella’, Wakil Sekretaris La’butte Rustam Daeng Matareng, Bendahara Umum Akbar Daeng Parani.

Mereka para penghulu SIMA’TANA paling terakhir meminum “sisa air” para anggotanya dan paling terakhir adalah Ketua Umum yang menghabisi sisanya hingga tetes terakhir.

Bakti tulus pada negara, itulah makna paling sederhana dari gabungan 2 kata, yakni SIMA’TANA. Menurut istilahnya pada jaman sebelum kemerdekaan, ia adalah “pajak bumi” yang dipersembahkan pada pemerintah kerajaan. Bahwa hasil bumi yang dipanen oleh rakyat, dipersembahkan sekedarnya kepada pemerintah sebagai “azimat negeri”.

Hal mana besaran hasil bumi itu rata-rata pada sebagian besar kerajaan di Sulawesi Selatan, memungut 1/5 (bagE limanna). Pertanda bahwa sistem feodalisme tak pernah diberlakukan di kawasan ini.

Selain makna diatas, Sima’tana pula bermakna sebagai “puteri puteri bangsa”. Mereka yang dilahirkan pada negeri ini adalah “sima’tana”.

Mereka yang terlahir bersama air ketuban dan darah bundanya tumpah dan diserap oleh “tanah” ini, adalah SIMA’TANA. Mereka yang kemudian tumbuh dengan memakan buah tumbuhan saripati bumi ini serta meminum air yang mengucur dari perut bumi ini, adalah: SIMA’TANA.

Bumi Putera yang dilahirkan tanah ini adalah “sima’tana”, terlepas dari apapun sukunya, apapun ras ethniknya, apapun agamanya, ia adalah SIMA’ (azimat) dimana tanah ia dilahirkan dan dibesarkan.

Ini adalah tentang tradisi pengayoman kepemimpinan. Ini adalah tentang martabat nilai-nilai pewarisan. Ini adalah tentang persaudaraan antar sesama anak bangsa, bernama: SIMA’TANA. Salama’ mappassalama’ ripassalama’.

Laporan : Agen Paulus Tandi
Editor : Agen 077 PRM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here