Abd Karim

SPIONASE-NEWS.COM,- MAKASSAR – Perubahan kehidupan sosial ditengah masyarakat Indonesia yang memiliki populasi penduduk sebanyak 269 juta jiwa dalam kurun waktu selama tiga bulan terkahir mengalami perubahan cukup signifikan.

Adanya wabah Corona Virus menuntun kepada setiap individu untuk melakukan rekonstruksi pola hidup dan aktivitas. Akibat dari terjadinya self individual change menjadikan cukup berakses terhadap pertumbuhan ekonomi dari semua leading sector.

Eksistensi wabah Corona Virus sangat berdampak pada kehidupan sosial masyarakat penduduk Indonesia secara totalitas, dimulai dari konstribusi aktivitas pekerja formal, hingga pekerja informal dan berujung berkurangnya income sektor ekonomi.

Kondisi inilah menjadikan pemerintah pada semua jenjang tingkatan untuk tetap melakukan akselerasi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang baru 3 bulan Corana Virus mewabah, namun dapat menurunkan angka pertumbuhan ekonomi lebih dari 50 % dari hasil presentase selama setahun sebelumnya.

Terjadinya penurunan pertumbuhan ekonomi juga mengalami dampak terhadap sosial kemasyarakatan, dimulai dengan akurasi data yang kurang akurat dalam penyaluran bantuan resmi dari pemerintah melalui beberapa Kementerian, hingga gesekan sosial yang mengarah pada kriminilitas dengan pemicu adanya portal penutupan akses dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Berdasarkan data dari WHO tertanggal 24 Mei 2020, jumlah Negara di dunia yang terjangkit oleh Corona Virus sebanyak 216 dan terkonfirmasi positif sebanyak 5.206.614 orang dinyatakan positif dan yang meninggal sebanyak 337.736. Sementara data dari Gugus Tugas Covid-19 di Indonesia sebanyak 22.271 dinyatakan positif, sembuh 5.402 dan yang meninggal sebanyak 1.372. Jika melihat trend perkembangan wabah Corona Virus di Indonesia, maka tentu jumlah angka kematian yang dinyatakan terjangkit oleh Covid-19 selama kurun waktu 3 bulan yakni dikisaran presentase tingkat kematian sebesar 6.2% dan presentase sembuh sebesar 24.26% dari seluruh jumlah kasus saat ini.

Jika melihat hasil presentase data tersebut, maka jumlah harapan untuk sembuh dari Covid-19 masih tergolong tinggi di Indonesia dari akumulasi total kasus yang ada.

Pandemic Global Covid-19 telah mengubah kehidupan lingkungan sosial masyarakat. Adanya wabah ini membuat semua elemen bekerja sama mengatasi virus corona.

Di Indonesia sendiri telah ada bantuan atau donasi yang banyak digalakkan dari kalangan lembaga, pengusaha, hingga masyarakat umum.

Dukungan dan gerakan physical distancing juga turut mengubah kebiasaan hidup masyarakat. Dengan menjaga jarak antar individu, kita dibentuk dengan kebiasaan untuk lebih menjaga kebersihan dan kesehatan diri sendiri serta orang lain. Wabah ini juga telah mengubah pola pikir masyarakat untuk hidup sehat.

International Monetary Fund (IMF) menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini tengah mengalami krisis dan memprediksikan jika laju pertumbuhan ekonomi global selama tahun 2020, hanya mengalami pergerakan yang begitu lambat, yakni berkisar 1 – 2 % akibat pandemi virus corona.

Hal tersebut dikarenakan pendorong utama pergerakan perekonomian yaitu konsumsi rumah tangga belakangan terus melambat. Bukan hanya pada sektor konsumsi rumah tangga, virus corona juga turut menyerang pasar saham.

Investor di berbagai dunia khawatir penyebaran virus corona akan menghancurkan pertumbuhan ekonomi dan tindakan pemerintah bahkan tidak sanggup menghentikan penuruan tersebut.

Di Indonesia sendiri Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 24 persen. Sementara kurs rupiah melemah hingga 5,41 persen dalam kurun waktu 6 bulan terakhir sebagai akibat dari keluarnya dana asing. Menurut Asian Development Bank (ADB), sebanyak 38,5 persen surat utang pemerintah Indonesia dipegang oleh investor asing, lebih tinggi dari negara Asia lainnya. Jika terjadi aksi jual secara serentak tentunya ini beresiko tinggi terhadap krisis ekonomi.

Berbagai kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah, baik Pemerintah Pusat hingga Pemerintah pada tingkat Desa telah ditetapkan untuk mencegah penyebaran dan penularan Covid-19. Dengan berbagai kebijakan tersebut sangat berpengaruh pada semua leading sector, khususnya perekonomian dan kehidupan sosial pada lapisan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Dari berbagai informasi jika sekitar 50 juta orang saat ini kehilangan pekerjaan akibat dampak Covid-19. Angka pengangguran pun mengalami peningkatan dan menjadi masalah baru dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Kecemasan dan ketakutan dari sebagian besar masyarakat Indonesia akan bahaya penularan Covid-19 juga berdampak terhadap kelangkaan barang dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya karena masyarakat tidak memang sengaja untuk tidak melakukan aktivitas atau bahkan mau melakukan aktivitas.

Akan tetapi terkendala pada akses jalan dalam distribusi barang kebutuhan masyarakat di daerah tertentu dengan adanya penutupan jalan atau portal.

Hal ini juga semakin memperparah kondisi dan menjadi pemicu konflik sosial sesama masyarakat. Fenomena ini bukan lagi berdasarkan pada asumsi ataupun analisa, akan tetapi sudah menjadi realita saat, walaupun dalam bentuk yang berbeda, namun jika dicermati dari akar persoalaannya hanya karena ada penutupan akses dan tidak bolehnya diperbolehkan orang lain melintas pada jalur tersebut.

Peran Pemerintah pada semua jenjang tingkatan dan semua pihak dalam penanganan wabah Covid-19 sangat diperlukan, tidak hanya solusi tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman. Dampak nyata dari wabah Covid-19 saat ini terjadi adalah di sektor ekonomi, karena hampir di semua sektor perekonomian merasakan dampaknya. Selain sektor ekonomi, dampak sosial juga tergambar pada aktivitas sosial masyarakat di seluruh penjuru tanah air. Himbauan untuk menjaga kesehatan, namun ada hal yang paling penting daripada panik yakni waspada.

Kepanikan justru akan menambah masalah, karena di situlah letak ketidaktenangan kita dalam menghadapi bahaya Covid-19. Akan tetapi jika semua lapisan masyarakat tetap menjaga dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya Covid-19.

Maka kita akan menemukan solusinya, apa yang harus dilakukan, sehingga dampaknya tidak akan terlalu menakutkan atau terjadinya konflik sosial yang selama ini kita mengganggap pemicunya dari persoalan sepele.

Penulis : Abdul Karim
(Mahasiswa S3 PPs Universitas Negeri Makassar, Pendidikan Ekonomi / Dosen STIE AMKOP Makassar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five + fifteen =