Cerita tulisan di sadur dari buku yang di tulis Andi Oddang to Sessungriu

SPIONASE-NEWS.COM,- SEJARAH – Matoa Wajo – XIX membuat Sultan Malikussaid Sombayya Gowa murka. Perlu kiranya dikemukakan pada bagian ini, bahwa I La Sigajang Tobunne adalah cucu La Mungkace Touddama Petta MatinroE ri Kannana Arung Matoa Wajo – XI.

Bahwa La Mungkace Touddama adalah satu diantara Tokoh Besar Tana Wajo yang memiliki perhubungan emosional dengan penguasa Kerajaan Gowa sebelumnya. Sejak I TEpu KaraEng DaEng Parabbung Somba Gowa – XIII hingga I Mangngurangi DaEng Mangrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna Somba Gowa – XIV (ayahanda Sultan Malikussaid) dan I Malingkaan DaEng Manyonri Sultan Abdullah Awwalul Islam KaraEng Matoaya ri Tallo’ telah berguru ilmu Tata Negara, Astronomi, Pilsafat dan Pertanian kepada La MungkacE Touddama di Wajo. Bahkan sekembalinya ke Gowa, Sultan Alauddin senantiasa mendudukkan tongkat La MungkacE Touddama disampingnya, sebagai tanda hormat pada gurunya tersebut. Maka tewasnya Raja Wajo yang adalah cucu La MungkacE Touddama tersebut adalah panggilan pessE (solidaritas) bagi Raja Gowa dengan segera memaklumkan perang terhadap Raja Bone dalam tahun 1644.
Menyangkut prihal diatas, penulis berpandangan bahwa alasan yang biasa dikemukakan sebagian peneliti, bahwa penyerbuan Gowa ke Bone adalah hukuman yang ditimpakan Sultan Malikussaid kepada La Maddaremmeng disebabkan kedurhakaannya pada ibundanya, adalah kurang tepat adanya. Walaupun tentu saja disepakati bahwa alasan sesungguhnya adalah dalam rangka memperebutkan keunggulan (dominasi) sebagai Kerajaan paling berpengaruh di jazirah Sulawesi.
Pandangan ini didasarkan penulis pada pemahaman terhadap karakter berbudaya Bugis Makassar yang sejak dulu sangat berhati-hati dalam mencampuri ranah siri rumpun keluarga orang lain. Kiranya adalah hal yang mustahil jika Sultan Malikussaid, seorang penguasa utama yang terkenal arif serta didampingi mangkubuminya yang cendekia (I Mangadacina DaEng Sitaba KaraEng Patingaloan KaraEng Tallo Tumabbicara Butta Gowa) begitu sembrono mencampuri urusan keluarga Raja lain sedemikian jauhnya. Hal yang hasilnya amat tidak sepadan jika dengan mengorbankan nyawa pasukannya serta menanggung biaya mobilisasi penyerbuan yang tidak sedikit.
Sepanjang perjalanan ke Wajo, iring-iringan bala tentara Kerajaan Gowa senantiasa menggalang persekutuan dengan kerajaan-kerajaan yang dilaluinya, termasuk Kerajaan Sidenreng. Maka terhimpunlah pasukan sekutu yang amat besar, menyerbu bagai air bah memasuki kancah peperangan Wajo dan Bone di medan Patila.
Menghadapi pasukan gabungan Gowa, Wajo, Sidenreng dan lainnya yang berjumlah besar serta masih segar, pasukan Bone yang dipimpin langsung La Maddaremmeng serta dibantu oleh saudaranya, yakni : La Tenroaji Tosenrima, seketika itu terdesak. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pasukan Bone yang kelelahan itu terpukul mundur. Baginda La Maddaremmeng dan La Tenroaji mundur hingga di negeri Larompong yang termasuk adalah termasuk dalam wilayah kerajaan Luwu. Hingga pada akhirnya, Baginda La Maddaremmeng terkepung di daerah Cimpu lalu tertawan oleh pasukan gabungan. Sementara itu, La Tenroaji berhasil meloloskan diri.
Peperangan yang menelan banyak korban jiwa para ksatria itu berakhir dengan mengukuhkan kemenangan pasukan Gowa beserta sekutunya. Baginda La Maddaremmeng ditawan disalahsatu kubu pertahanan pasukan Gowa di Sanrangang. Lontara Bone menggambarkan kondisi pahit pada ketika itu, bahwa : “Naripoatana Bone seppulo pitu taung ittana..” (diperbudaklah Bone selama tujuh belas tahun). Hal yang menjadi kelaziman pada masa itu, bahwa pihak yang kalah pemenang senantiasa dijadikan abdi oleh pihak pemenang. Terlepas kesesuaiannya menurut pertimbangan kemanusiaan, namun semuanya menerima sebagai hal yang normative.
Setelah menguasai Kotaraja Bone sepenuhnya, Baginda Sultan Malikussaid mengumpulkan Ade’ PituE (Dewan Hadat Kerajaan Bone yang berjumlah 7 orang) seraya memaklumatkan kedaulatan Gowa atas Kerajaan Bone. Baginda meminta kepada dewan tersebut agar segera menunjuk seorang Raja Bone yang baru, pengganti La Maddaremmeng Sultan Ahmad Saleh yang kini ditawan pasukan Gowa. Namun baginda Sultan Malikussaid mempersyaratkan kiranya Mangkau’ Bone yang baru tersebut harus tunduk terhadap kekuasan Kerajaan Gowa sebagai pemegang supremasi tunggal di Sulawesi.

Namun dewan Ade’ PituE merasa tidak mampu mendapatkan figur yang sesuai dengan persyaratan tersebut. Bahkan kemudian meminta agar kiranya sekalian Sultan Malikussaid sendirilah yang menjadi Mangkau Bone. Tetapi Sultan Malikussaid menolak permintaan itu karena memahami Pangadereng yang berlaku di Bone, bahwa seorang Raja Bone adalah mutlak keturunan ManurungngE ri Matajang, pendiri kerajaan Bone yang sekaligus juga sebagai Mangkau’ Bone I. Hal yang sama halnya dengan di Gowa, bahwa seorang Raja Gowa mestilah keturunan Manurungnga ri TamalatE, pendiri dan Somba Gowa I. Begitulah halnya dengan karakter dan azas moral seorang Raja yang menurunkan bangsawan, yakni senantiasa mewasiatkan kepada anak turunannya untuk selalu mawas diri yang disebut dalam khazanah Paseng Ugi’, yakni : Naita alEna na pakalebbi’i bali na (tahu diri serta memuliakan sesamanya bangsawan).

Berhubung penolakannya tersebut, Raja Gowa kemudian menawarkan jabatan itu kepada Mangkubuminya, yakni : I Mangada’cina DaEng Sitaba KaraEng Patinggaloan KaraEng Tumabbicara Butta Gowa. Namun mangkubumi yang arif bijaksana itu menolak dengan alasan yang sama pula. Akhirnya Sultan Malikussaid meminta kepada pamannya, yakni KaraEng Sumanna untuk menerima jabatan tersebut, mengingat Kerajaan Bone haruslah secepatnya memiliki pucuk pimpinan pemerintahan agar tidak terjadi kekacauan dimasyarakatnya yang baru saja kalah perang itu. Suatu jabatan yang bukan dimaksudkan untuk menduduki tahta Mangkau’ Bone, melainkan selaku pelaksana tugas pemerintahan belaka.
KaraEng Sumanna menerimanya sesaat. Kemudian atas persetujuan Sultan Malikussaid , beliau menunjuk Tobala Arung TanEtEriawang Petta PakkanynyarengnE yang adalah salahseorang anggota Dewan Hadat Ade’ PituE untuk bertindak sebagai jennang (Gubernur) yang melaksanakan pemerintahan di Bone sebagai perpanjangan tangan Pemerintahan Kerajaan Gowa.
Adapun halnya dengan La Tenroaji Tosenrima yang berhasil meloloskan diri di pengepungan Cimpu, beliau berhasil menyusup kembali ke Kotaraja Bone. Secara diam-diam, beliau mendatangi satu demi satu para pangeran Bone yang masih setia pada Kerajaan Bone yang sesungguhnya tidak pernah rela terjajah oleh Kerajaan Gowa. Maka beliaupun berhasil dengan gerakan bawah tanah tersebut, mengkonsolidasi para tokoh-tokoh Kerajaan Bone dengan membentuk sebuah Pasukan yang cukup kuat. Rakyat Bone kemudian mendaulat beliau sebagai Raja Bone yang sah, menggantikan kakaknya yang sedang berada dalam tawanan Kerajaan Gowa.
Mengetahui perihal pemberontakan rakyat Bone yang dipimpin oleh La Tenroaji tersebut, Sultan Malikussaid murka. Baginda sendiri memimpin pasukan Gowa yang terkonsolidasi dengan pasukan-pasukan kerajaan sekutunya (Wajo dan Sidenreng) menyerbu Tana Bone yang sudah dikuasai La Tenroaji dan segenap lasyarnya. Setelah mengetahui jika pasukan gabungan dalam perjalanan memasuki wilayah Bone, La Tenroaji memobilisasi pasukannya ke bukit PassEmpe’, suatu areal perbukitan yang tidak jauh dari Kotaraja dan sangat ideal untuk dijadikan basis pertahanan. Akhirnya terjadilah pertempuran sengit di PassEmpe’ yang tertulis dalam kenangan Lontara Bilang (catatan harian Raja-raja Gowa) sebagai : Bundu’ka ri PassEmpe’ (Peperangan di PassEmpe’).
Pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya, memakan korban yang tidak sedikit pada kedua belah pihak. Hingga pada penghujung perang itu, basis pertahanan pasukan La Tenroaji dapat dibobol oleh pasukan gabungan yang lebih banyak serta berpengalaman. Peristiwa pahit ini kemudian tertulis pada Lontara Bone sebagai : BEtaE ri PassEmpe’ (Kekalahan di PassEmpe), kemudian La Tenroaji digelari pula sebagai : Betta’E ri PassEmpe’ (Sang Jagoan di PassEmpe’) atas keberaniannya yang mencengankan kawan maupun lawannya. Akhirnya baginda La Tenroaji tertawan oleh pasukan gabungan hingga kemudian diasingkan ke negeri Siang (Pangkep kini) sampai wafatnya. Maka baginda diberi gelar anumerta : Petta MatinroE ri Siang. Demikianpula dengan para pangeran dan tokoh-tokoh Bone dan Soppeng yang membantunya, semuanya ditawan ke Gowa sebagai budak kalah perang, suatu peristiwa yang terjadi dalam tahun 1643.
Kemenangan perang Gowa bersama sekutunya di PassEmpe’ mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Kerajaan Gowa kini menjadi satu-satunya pemegang supremasi di jazirah Sulawesi dan sekitarnya. Namun bagi kerajaan Bone dan Soppeng, kekalahan itu berdampak penderitaan dan penghinaan yang luar biasa. Para pangeran dan rakyat serta segenap harta kedua negeri itu dibagi-bagikan kepada negeri penakluknya sebagai rampasan perang.
Adapun halnya Kerajaan Wajo sebagai sekutu pihak pemenang, menolak pembagian rampasan perang yang diberikan oleh Sultan Malikussaid. La Makkaraka Topatemmui Arung Matoa Wajo – XX menolak memperbudak orang Bone dan Soppeng disebabkan karena dipandangnya kedua negeri itu adalah saudara sesuai dengan Perjanjian LamumpatuE ri Timurung. Suatu perjanjian yang mempersaudarakan 3 Negeri, yakni : Bone, Wajo dan Soppeng dalam tahun 1582 yang kemudian lebih dikenal sebagai TellumpoccoE. “Adalah pantangan memperbudak saudara sendiri !”, demikian kata Arung Matoa Wajo kala itu.
Maka pada babak selanjutnya, penawanan para bangsawan Bone – Soppeng kiranya adalah penghujung riwayat “perang Patila” yang kemudian melahirkan 2 tokoh besar Sulawesi pada kurang lebih 20 tahun kemudian, yakni : La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka Petta Malampe’e Gemme’na Sultan Sa’aduddin dan I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin. Kehadiran kedua tokoh yang menjadi pemeran utama Perang Makassar dalam paruh kedua abad – 17. (Bersambung Edisi Ke – 3)

Editor : Agen 007 IJG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here