SPIONASE-NEWS.COM, – PAREPARE – Perlahan-lahan kehidupan ekonomi dan kesehatan serta aspek lain dalam bangsa ini mulai tergerus akibat wabah virus Corona (COVID-19). Dalam setiap minggu, jumlah orang terpapar virus COVID-19 ini terus bertambah dan mewabah ke mana-mana, bahkan berdampak pada kematian. Kondisi yang memprihatinkan ketika para tenaga medis harus menjadi korban penyebaran virus ini, di samping peran mereka sangat vital dalam memerangi pandemik penyakit ini, Sabtu (28/3/2020).

Antonius Primus, Sekretaris LMR-RI Komda Parepare

Menyikapi situasi nasional yang tidak menentu ini, terutama dimana fasilitas penanganan COVID-19 makin minim, Pengurus LMR-RI Komisariat Daerah (Komda) Parepare menghimbau agar pemerintah mengambil langkah lain yang lebih efektif dalam pencegahan penularan COVID-19 ini. Upaya tersebut dilakukan dengan merelokasi semua pasien positif corona keluar dari tengah masyarakat, dengan mengisolasi dalam satu pulau tersendiri.

“Bayangkan, betapa sangat beresiko jika pasien positif COVID-19 ditempatkan di rumah sakit di tengah masyarakat mengingat betapa cepat penyebaran virus ini melalui berbagai media di sekitarnya.

Sosial Distance tidak cukup jika masyarakat yang sehat dan yang positif berada dalam lokasi yang sama, di daerah yang sama. Hal ini mengingat virus COVID-19 tidak mudah dideteksi pada saat penularannya.

Orang baru diketahui terpapar COVID-19 justeru ketika sebagian dari daya tahan tubuh sudah mengalami lemah, atau sudah digerogoti virus.

Tentu penanganannya dapat saja terlambat hingga menular ke orang di sekitarnya,” jelas Antonius Primus anggota LMR-RI Komda Parepare saat ditemui Spionase-News.Com pada Jumat 27 Maret 2020 di kediamannya.

Pemerintah harus memahami mekanisme kerja virus ini yang sangat cepat menyebarannya, namun cara penyebarannya terjadi secara kasat mata dan tanpa disadari. Standar pengamanan diri yang disosialisasikan itu tidak secara utuh menghindarkan manusia dari wabah, tetapi hanya untuk membentengi diri, karena vaksin untuk virus ini belum ditemukan.

“Bayangkan, APD yang dikenakan dalam menangani COVID-19 itu saja hanya sekali pakai, lalu dibuang. Di sini sudah jelas potensi ancaman bahaya sangat besar. Dan karena itu akan sangat bertele-tele penanganannya dan menghabiskan biaya yang sangat besar dan tidak terkendali,” tegas Antonius Primus, yang juga staf di salah satu perguruan tinggi kesehatan di kota Parepare.

Lebih lanjut Primus menerangkan bahwa sebaiknya pemerintah segera mengupayakan sebuah lokasi khusus untuk karantina seluruh pasien dengan sistem satu pintu dalam satu pulau, jauh dari masyarakat. Sehingga aktifitas ekonomi dan sebagainya bisa berjalan kembali serta penanganan COVID-19 dapat lebih terpusat dan terorganisir dengan baik.

Terobosan itu diusulkan untuk mengimbangi keterbatasan anggaran dan fasilitas penanganan virus, terutama di setiap rumah sakit di daerah-daerah. Terobosan ini dirasa efektif memutuskan mata rantai penyebaran karena pasien dapat mudah dipantau dengan tim dokter gabungan dan terkoordinir dengan baik.

Antonius Primus juga menghimbau agar masyarakat mendukung pemerintah dengan mematuhi rambu-rambu yang diselenggarakan pemerintah dalam pencegahan penularan wabah ini. Semoga ke depan, bangsa ini bisa menyelesaikan masalah COVID-19.

Laporan : Agen Paulus/Agen Acho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 4 =