SPIONASE-NEWS.COM, – OPINI – Sejak awal Maret 2020, Bangsa kita digegerkan saat ditemukannya 2 orang warga Depok Jawa Barat yang positif terinfeksi virus corona. Sejak ditemukannya 2 orang tersebut, spontanitas semua kaget dan bahkan tidak percaya.

Abdul Karim, Mahasiswa PPs UNM Program Doktoral

Akan tetapi peristiwa tersebut menjadi babak baru bagi semua kalangan masyarakat Indonesia dan mengantisipasi penyebarannya. Namun fakta lain berbicara, hampir semua Kepala Daerah sudah melaporkan status daerahnya masuk dalam kategori siaga penularan wabah Covid-19.

Pemerintah Pusat pun kemudian memberikan himbauan kepada seluruh jajaran yang ada untuk memutuskan mata rantai penyebaran wabah virus Covid-19.

Tak terkecuali dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, sejak Tanggal 16 Maret 2020 langsung mengeluarkan surat edaran kepada seluruh citivitas Perguruan Tinggi dan Sekolah pada semua jenjang tingkatan untuk meniadakan aktivitas di Kampus dan Sekolah. Semua aktivitas digantikan dengan kegiatan belajar mengajar di rumah secara daring atau online sebagai upaya pencegahan penularan wabah Covid-19 sebagai upaya metode social distancing.

Surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tersebut cukup efektif dan berjalan maksimal oleh karena semua Perguruan Tinggi dan Sekolah langsung meniadakan aktivitas belajar mengajar secara Offline / Luring, kemudian digantikan dengan aktivitas belajar mengajar secara Online/Daring.

Jika mencermati dari upaya pemutusan mata rantai penularan wabah Covid-19 ini, pada semua jenjang pendidikan dan beralih ke medianyang besifat virtual.

Maka tentu dapat kita memberikan hipotesis bahwa yang dapat meraup keuntungan dari peristiwa (Pandemic Global “Covid-19”) ini adalah mereka peneyedia jasa telekomunikasi atau provider akses internet.

Bukan tanpa dasar kita memberikan hipotesis tersebut bahwa provider akses internet yang meraup kenaikan omzet adalah mereka. Coba kita membuatkan simulasi akumulasi omzet provider internet dari yang lainnya.

Jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia saat ini sebanyak 4.586, kemudian terbagi pada Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Swasta sebanyak 3.250. Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta dibawah naungan Kemenag sebanyak 1.555.

Sedangkan Perguruan Tinggi Kedinasan sebanyak 181. Sementara, akumulasi jumlah Dosen yang aktif sebanyak 279.844 orang dan jumlah mahasiswa aktif sebanyak 7,5 juta orang.

Pada jenjang pendidikan SMA dan SMK, jumlah siswa sebanyak 9,69 juta murid dan jumlah guru sebanyak 611.020 orang. Pada jenjang tingkat SMP, jumlah siswa sebanyak 9.981.216 murid dan jumlah guru sebanyak 635.424 orang. Sedangkan pada jenjang SD, jumlah siswa sebanyak 25.238.923 murid dan jumlah guru sebanyak 1.464.747 orang pada seluruh wilayah Indonesia.

Jika kita mengasumsikan, bahwa setiap orang melakukan pembelian kouta data sebanyak Rp. 50.000,- untuk akses internet dalam melaksanakan pembelajaran secara Daring/Online.

Maka asumsi jumlahnya sebagai berikut : Dosen sebanyak 279.844 orang x Rp. 50.000,-= Rp. 13,99 M. Mahasiswa sebanyak 7.5 juta orang x Rp. 50.000,-= Rp. 375 M. Siswa SMU/SMK sebanyak 9.69 juta orang x Rp. 50.000,-= 484,5 M. Jumlah Guru SMU/SMK sebanyak 611.020 orang x Rp. 50.000,-= Rp. 30,55M. Jumlah siswa SMP sebanyak 9.981.216 orang murid x Rp. 50.000,-= Rp. 499,05 M. Jumlah Guru SMP sebanyak 635.424 orang x Rp. 50.000,-= Rp. 31,77 M. Sementara jumlah siswa SD sebanyak 25.238.923 orang murid x Rp. 50.000,-= Rp. 1, 26 T. Jumlah Guru SD sebanyak 1.464.747 orang x Rp. 50.000,-= Rp. 73,23 M.

Jika disesuaikan dari hasil rekapitulasi data tersebut, maka jumlah pemakaian akses internet pada Dosen dan Mahasiswa sebanyak Rp. 388,99 M. Untuk kategori siswa SMU/SMK dan Guru sebanyak Rp. 515,05 M. Kategori siswa SMP dan Guru sebanyak Rp. 530,82 M. Sementara pad kategori siswa SD dan Guru sebanyak Rp. 1,33 T.

Secara keselimpulan sederhana pada pembelian kouta data akses internet dalam penerapan metode pembelajaran daring/online di 4 jenjang pendidikan (PT, SMU/SMK, SMP dan SD) sebanyak Rp. 2,76 T. Berdasarkan hitungan tersebut, maka kita dapat mengasumsikan bahwa omzet provider telekomukasi saat ini (peristiwa Pandemic Global Covid 19) sebanyak Rp. 2,76 T hanya pada aspek 4 jenjang pendidikan dan ini merupakan angka dibawah standar pemakaian akses data internet saat ini.

Oleh karena itu, siapapun pihak yang mendapatkan kenaikan omzet ataukah keuntungan pada peristiwa Pandemic Global ini, harus kita apresiasi serta harus saling mendukung dan mendoakan. Semoga peristiwa ini seceparnya berakhir dan semua individu dapat kembali menjalankan roda aktivitasnya seperti sebelum adanya peristiwa Pandemic Global ini.. Amin

Penulis : Abdul Karim (Mahasiswa PPs UNM Program Doktoral)

Editor – Agen 094 As

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − ten =