Bulukumba, Spionase-news.com – Acara  peringatan sumpah pemuda ke-89 di Lapangan Pemuda Kabupaten Bulukumba, Sabtu kemarin, (28/10/2017) ternyata menuai kritik dari Citizen dan pemerhati budaya.

Sebagaimana terlihat diakun facebook Andhika Mappasomba yang diposting pada pukul 10.00 wita pagi.

Pada postingannya, Ia mengatakan bahwa acara sumpah pemuda dengan “tema baju adat” di Bulukumba Sulsel cukup semarak dan penuh warna. Sayangnya, 1 Lapangan, tak tampak satu pun orang (pemuda) memakai baju tradisinya sendiri (Kajang/hitam-hitam).

“Jadi, apa sebenarnya yang terjadi. Semoga ini bukan pertanyaan Sampah Pemuda, atau orang Kajang memang tidak pernah di tanahnya sendiri. Saya curiga, kekuasaan di sana memang tidak memiliki keutuhan konsep budaya atau keberpihakan pada kebudayaan lokal secara sistemik,” ujar Andhika Mappasomba pada akun Facebooknya.

Sementara itu, salah satu tokoh pemuda dan pemerhati budaya, H. A. Gunawan saat ditemui di kantornya mengatakan bahwa sepertinya panitia pelaksana ini tidak siap melaksanakan kegiatan ini. “Buktinya masih ada beberapa kekurangan, salah satunya adalah kader KNPI dan pengurusnya sebagai eksekutif pemuda di Bulukumba, terlihat tidak teratur tempat duduknya di lokasi acara. Selain itu, banyak pegawai Negeri dan darma wanita tidak kebagian kursi yang merupakan undangan,” ungkap mantan pengurusn KNPI Bulukumba itu.

H.A. Gunawan menambahkan, seharusnya panitia pelaksana menghadirkan ciri khas daerah kita pada acara tersebut. Kearifan kita di Bulukumba Lokal harus ditonjolkan karena spirit kepemudaan ada juga pada tradisi adat istiadat kita di Kabupaten Bulukumba.

“Kan tidak subtansi adat provinsi atau kabupaten lain dipamer disini, tidak salah jika 10 Kecamatan di Kabupaten Bulukumba pemudanya diundang dan berpakaian adat sesuai tradisi pakaiannya, agar terlihat sebagai momemtum pengetahuan, ini loh pakaian adat kita, seperti misalnya pemuda Ujungbulu, gantarang, Bontotiro apa ciri khasnya, kalau Kajang kan kita sudah tahu bahwa pakaian adatnya serba hitam dan Passapu, tidak perlu lagi kita bawa pemuda jawa atau Jon Java itu, kita standarnisasi dulu apa yang ada di Bulukumba,” jelasnya.

Dengan demikian, pihaknya menilai bahwa ini jelas menjadi tanggung jawab panitianya, bukan protokoler Pemda atau dinasnya. Kedepan panitianya harus lebih kreatif lagi karena tidak mungkin Bupati akan mengurusi hal-hal yang sangat tehknis demikian.

“Sepengetahuan saya, pak bupati sangat mencintai kebudayaan yang ada, hanya saja kita perlu membantu pemerintahan ini, agar lebih baik lagi,” tutup H.A. Gunawan.

Dikonfirmasi terpisah, Dani selaku Ketua panitia pelaksana dari Dinas Pemuda dan olahraga mengakui bahwa itu merupakan kealpaan panitia.

“Memang ada beberapa pakaian adat di Sulsel yang tidak sempat ditampilkan. Dan kami akui itu kealpaan panitia. Ini menjadi evaluasi buat panitia ke depannya. Kemarin kami konsen keadat nasional sehingga lupa menampilkan adat Sulsel,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here