SPIONASE-NEWS.COM,- BARRU — Polemik penambangan sirtu (pasir dan batu) di Sungai Botto-Botto, Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru kembali memanas, mahasiswa dan warga mempertanyakan keabsahan izin tambang tersebut.

Audiensi yang digelar di rumah salah satu warga hari ini, dan mempertemukan pihak perusahaan, aparat desa, aparat keamanan, tokoh masyarakat serta perwakilan mahasiswa, justru berakhir dengan penolakan keras terhadap aktivitas tambang tersebut.
Pertemuan ini dihadiri oleh Pimpinan PT Bumi Barru Sejahtera, aparat desa, perwakilan kepolisian dan TNI, tokoh masyarakat, serta Gabungan Pemuda Pelajar Mahasiswa Barru (Gappembar) Komisariat V Tanete Riaja.
Dalam forum tersebut, masyarakat dan mahasiswa kompak menyuarakan keresahan atas dampak negatif yang ditimbulkan aktivitas penambangan di Sungai Botto-Botto, sungai yang selama ini menjadi sumber air, ekosistem alami, dan penopang mata pencaharian warga sekitar, sudah mulai rusak.
Warga dan Mahasiswa Tegaskan Penolakan Total
Andi Fitra, mahasiswa sekaligus perwakilan Gappembar, menyampaikan bahwa penolakan ini bukan tanpa alasan, melainkan didasari fakta kerusakan lingkungan yang semakin terlihat sejak tambang mulai beroperasi.
“Kami tidak main-main. Tambang ini telah membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat. Kami menuntut penghentian total aktivitas penambangan serta pemulihan lingkungan. Masyarakat dan mahasiswa menolak keras eksploitasi ini,” tegas Fitra dalam audiensi.
Tokoh masyarakat yang hadir juga memberikan kesaksian langsung mengenai perubahan debit air sungai, kerusakan akses jalan akibat lalu lintas kendaraan tambang, hingga potensi peningkatan risiko banjir di musim hujan.
Warga menilai kerusakan ekologis dan ancaman terhadap keselamatan jauh lebih besar dibanding keuntungan ekonomi jangka pendek dari aktivitas penambangan.
Tawaran Perusahaan Tidak Mengubah Sikap Warga
Dalam pertemuan tersebut, pihak PT Bumi Barru Sejahtera mencoba menawarkan sejumlah solusi, di antaranya:
Pembentukan 9 Tim Evaluator untuk mengawal mekanisme dan dampak penambangan.
Penghentian sementara aktivitas tambang hingga keluarnya keputusan final dari tim evaluator.
Namun, tawaran itu tidak mengubah sikap masyarakat dan mahasiswa. Penolakan tetap disampaikan secara kolektif, dan warga menegaskan bahwa solusi tersebut tidak menyentuh akar masalah utama, yakni kerusakan lingkungan dan ancaman terhadap kelangsungan ruang hidup mereka.
Masyarakat: Tolak Penghentian Sementara, Minta Penutupan Permanen
Warga menilai opsi penghentian sementara hanya meredam situasi sesaat dan bukan penyelesaian. Mereka menegaskan bahwa seluruh aktivitas penambangan harus dihentikan secara permanen.
Sikap penolakan yang tidak goyah dari masyarakat dan mahasiswa ini menjadi sinyal kuat bahwa warga Tanete Riaja tidak akan mundur dalam upaya melindungi Sungai Botto-Botto dari eksploitasi lebih lanjut.
Komitmen Mengawal Isu Lingkungan
Aksi penolakan tegas ini juga menjadi pernyataan bahwa masyarakat siap mengawal persoalan ini sampai tuntas. Mereka mendesak agar perusahaan benar-benar menghentikan operasi tambang dan melakukan pemulihan lingkungan secara menyeluruh.
Masyarakat bersama Gappembar memastikan bahwa perlawanan terhadap eksploitasi sungai akan terus dilakukan apabila pihak perusahaan mencoba melanjutkan aktivitas tanpa persetujuan warga.
Laporan : Agen 091 Haedir/Agen 089 M. Rijal





















