Syaifullah Mahfudz – Sekretaris Bidang TI PW IPM Sulawesi Selatan

SPIONASE-NEWS.COM,- MAKASSAR – OPINI – Belakangan ini saya cukup tertarik dengan gagasan “Algoritma Pelajar” yang dibawa oleh Ketua Umum PP IPM Dany Rahmat Muharram. Awalnya saya mengira kata algoritma hanya berkaitan dengan dunia pemrograman atau media sosial. Namun setelah mencoba memahaminya, ternyata maknanya jauh lebih luas.

Hari ini kita hidup di era ketika hampir semua aktivitas bersentuhan dengan teknologi. Bangun tidur membuka media sosial, mencari informasi lewat internet, belajar menggunakan AI, hingga berdiskusi di berbagai platform digital. Semua terasa begitu dekat.

Di balik kemudahan itu, ada satu hal yang kadang tidak kita sadari. Apa yang kita lihat setiap hari sebenarnya dipengaruhi oleh algoritma. Konten yang muncul di beranda, video yang direkomendasikan, bahkan isu yang sedang ramai dibicarakan, semuanya dipilih oleh sistem.

Pertanyaannya sederhana, apakah kita yang menggunakan teknologi, atau justru teknologi yang mulai mengendalikan cara kita berpikir?
Menurut saya, di situlah letak pentingnya gagasan Algoritma Pelajar. Pelajar tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Kita juga perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa informasi, dan menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab. Jangan sampai kita mudah terbawa arus hanya karena sebuah konten sedang viral.

Sebagai bagian dari Bidang Teknologi Informasi, saya melihat ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan. Selama ini, bidang teknologi sering dipahami sebatas mengurus media sosial, membuat desain, atau mengelola website. Padahal perannya bisa lebih dari itu.

Teknologi seharusnya menjadi alat untuk membangun gerakan yang lebih berdampak. Bukan hanya menghasilkan konten yang ramai dilihat, tetapi juga konten yang membuat pelajar mau belajar, berpikir, dan bergerak. Bukan hanya membuat sistem digital yang keren, tetapi juga mempermudah pelayanan organisasi dan memperkuat kolaborasi antarkader.

Saya juga percaya bahwa transformasi digital di IPM tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi. Kita perlu memastikan bahwa setiap inovasi tetap berangkat dari kebutuhan pelajar dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Mungkin inilah yang ingin diingatkan melalui algoritma pelajar. Bahwa di tengah derasnya perkembangan teknologi, pelajar harus tetap menjadi pengendali arah, bukan sekadar mengikuti arus.

Masih banyak yang perlu dipelajari, termasuk oleh saya sendiri. Tetapi semoga gagasan ini menjadi awal bagi kita semua untuk lebih bijak menggunakan teknologi dan menjadikannya sebagai sarana menciptakan perubahan yang nyata. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah gerakan tetap manusianya. Nuun Wal Qalami Wamaa Yasthuruun

Laporan : Haedir Jamal (Biro Barru)