
SPIONASE-NEWS.COM,- JENEPONTO – Musim hujan belum lama turun, tapi penderitaan warga Desa Lentu, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto sudah kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. Jalan Poros yang menjadi urat nadi ekonomi warga kini berubah total menjadi kubangan lumpur setiap kali diguyur hujan. Senin (15/06/2026).
Kondisi ini bukan cerita baru, warga hanya bisa pasrah melihat aspal terkikis habis, digantikan lubang-lubang besar yang setiap hari mengancam keselamatan pengendara, terutama anak sekolah dan petani yang membawa hasil panen.
Ketua Komda LMR RI (Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia) Kabupaten Jeneponto, Abd. Jalil,, S.Pd, menyoroti kondisi jalanan yang memprihatinkan ini. “Dengan kondisinya yang lebih parah dari jalan usaha tani. Aspal habis terkikis, lubang menganga bagaikan sawah yang sudah layak ditanami padi. Kalau hujan 1 jam saja, seluruh badan jalan langsung berubah jadi kolam lumpur coklat. Ini bukan jalan, ini jebakan untuk rakyat,” tegasnya saat turun langsung ke lokasi bersama Tim Investigasi LMR RI Jeneponto.
Akibat kondisi jalan tersebut, roda ekonomi Desa Lentu lumpuh total saat hujan. Petani kesulitan mengangkut hasil panen jagung dan padi. Anak-anak SMP/SMA harus berjalan kaki pelan-pelan dan sering terlambat ke sekolah karena takut motor tergelincir. Ironisnya, warga tetap rutin membayar Pajak Bumi dan Bangunan serta pajak kendaraan setiap tahun.
Warga Desa Lentu tidak minta muluk-muluk. Kami hanya minta perlakuan yang sama seperti warga kota. Bayar pajaknya sama, tapi kenapa nasib jalannya beda langit dan bumi?
Warga Desa Lentu berteriak, Lebih baik ditanami pisang dari pada jalan poros Desa Lentu dibiarkan jadi kubangan kerbau. Kami mohon kepada Bapak Bupati Jeneponto, Ketua DPRD Jeneponto, dan Pak Kadis PU untuk turun langsung lihat kondisi ini. Tidak usah pakai mobil dinas. Cukup pakai motor saat habis hujan. Biar Bapak rasakan sendiri apa yang kami rasakan setiap hari,” ungkap salah satu warga dengan nada kecewa.
Ketua Komda LMR RI Jeneponto, Abd Jalil, S.Pd menegaskan akan terus mengawal dan menyuarakan penderitaan warga Desa Lentu sampai ada intervensi nyata dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jeneponto.
“Pembangunan yang adil itu tidak boleh pilih-pilih lokasi. Kalau pusat kota bisa mulus, Desa Lentu juga berhak merasakan aspal yang layak. Jangan sampai ada korban jiwa dulu yang jatuh akibat jalan yang berlubang, baru jalan ini diperbaiki,” pungkas Abd. Jalik, S.Pd. alias Dg.Jalil Brontak.
Laporan : Agen 093 Nasir

























