
SPIONASE-NEWS.COM,- OPINI – Ada hal yang seharusnya membuat kita bertanya: mengapa wilayah pegunungan seperti Enrekang rentan menghadapi banjir dan angin kencang?
Persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan bentang alam yang terjadi selama bertahun-tahun. Alih fungsi lahan menjadi perkebunan bawang telah mengubah sebagian kawasan yang sebelumnya ditumbuhi pepohonan menjadi lahan pertanian.

Padahal, pohon memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, membantu penyerapan air, menahan tanah, dan mengurangi paparan angin.
Peringatan tentang dampak perubahan lingkungan sebenarnya bukan hal baru. Namun, ketika kepentingan ekonomi terus ditempatkan di atas kelestarian alam, kita seolah memilih untuk mengabaikan risiko yang mungkin muncul di kemudian hari.
Hari ini, ketika banjir dan angin kencang melanda, pertanyaan yang patut diajukan bukan sekadar apa yang sedang terjadi, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan alam selama ini.
Kita sering menggunakan alasan kebutuhan hidup untuk membenarkan eksploitasi lingkungan. Petani membutuhkan lahan, masyarakat membutuhkan penghasilan, dan ekonomi harus terus berjalan. Semua itu benar. Namun, apakah memenuhi kebutuhan hari ini harus dibayar dengan rusaknya lingkungan yang menopang kehidupan kita sendiri?
Enrekang tidak hanya membutuhkan pertanian yang produktif, tetapi juga lingkungan yang tetap lestari. Sebab, lahan pertanian yang menghasilkan keuntungan hari ini tidak akan banyak berarti jika keseimbangan alam di sekitarnya terus terabaikan.
Pohon bukan sekadar tanaman yang bisa ditebang dan digantikan dengan komoditas yang lebih menguntungkan. Keberadaannya merupakan bagian dari sistem alam yang menjaga tanah, air, dan kehidupan. Ketika tutupan vegetasi berkurang, kemampuan lingkungan dalam merespon hujan dan angin juga dapat berubah, meskipun besarnya dampak tetap perlu dibuktikan melalui kajian ilmiah.


Karena itu, banjir dan angin kencang yang terjadi seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah, pelaku usaha pertanian, dan masyarakat untuk mengevaluasi kembali tata kelola lahan. Kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa alih fungsi lahan merupakan satu-satunya penyebab bencana, tetapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap risiko kerusakan lingkungan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang memilih antara pertanian atau kelestarian alam. Keduanya harus berjalan beriringan. Yang perlu dihentikan adalah cara berpikir yang menganggap alam sebagai sumber daya tanpa batas dan mengabaikan konsekuensi dari eksploitasi yang berlebihan.
Jangan sampai atas nama kebutuhan hidup, kita justru merusak sumber kehidupan itu sendiri. Sebab, ketika keuntungan menjadi satu-satunya tujuan, alam dan manusia sama-sama berisiko menjadi korban. Dan ketika dampaknya mulai dirasakan, yang menanggung akibatnya bukan hanya mereka yang merusak, tetapi juga masyarakat luas dan generasi yang akan datang.
Penulis: Hijrah Rasyid lahir di Enrekang, kini mengajar sebagai guru di kota Makassar, dan aktif menulis isu-isu sosial, lingkungan, serta pertanian. Baginya, menulis adalah cara untuk merawat mereka yang kerap dilupakan.
Laporan Agen: 015 MWR

























