
SPIONASE-NEWS.COM,- MAKASSAR – Pembukaan Program Studi S1 Industri Musik di Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) mendapat sorotan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KEMA FSD UNM.
Presiden BEM KEMA FSD UNM, Fadil Adinata D, menilai langkah tersebut memang progresif dan patut diapresiasi sebagai jawaban atas perkembangan industri kreatif. Namun ia mengingatkan agar euforia tidak menutupi persoalan mendasar terkait kesiapan dan mutu akademik.
“Keberhasilan sebuah program studi tidak diukur dari seremoni peresmian ataupun publikasi, melainkan dari kesiapan sumber daya manusia, kompetensi dosen, kelengkapan laboratorium, studio, instrumen praktik, kurikulum yang adaptif, hingga ekosistem akademik,” tegas Fadil dalam keterangan tertulisnya, Jumat (07/08/2026).
Menurutnya, sejumlah program studi yang lebih dulu ada di FSD UNM seperti Pendidikan Seni Rupa, Sendratasik, Desain Komunikasi Visual (DKV), Seni Tari, dan Animasi masih memiliki pekerjaan rumah. Keterbatasan fasilitas pembelajaran, sarana praktik yang belum memadai, hingga perebutan ruang kelas masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan secara optimal.
Kondisi tersebut, kata Fadil, harus menjadi alarm bagi pimpinan fakultas dan universitas agar ekspansi kelembagaan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas, bukan sekadar kuantitas.
“Kami tidak ingin Prodi Industri Musik mengalami persoalan yang sama. Jangan sampai mahasiswa dijadikan objek eksperimen kebijakan yang terburu-buru, sementara kesiapan institusi belum sepenuhnya matang,” ujarnya.
BEM KEMA FSD UNM mendesak pimpinan universitas dan fakultas untuk membuka secara transparan kesiapan akademik Prodi Industri Musik. Transparansi tersebut meliputi ketersediaan dosen tetap yang kompeten di bidang industri musik, fasilitas studio dan laboratorium, kemitraan dengan industri, serta roadmap pengembangan jangka panjang.
Fadil menegaskan, pendidikan tinggi bukan ruang pencitraan institusi.
“Kami mendukung kemajuan FSD. Namun dukungan tidak berarti menanggalkan sikap kritis. Justru kritik adalah bentuk kepedulian agar setiap kebijakan akademik benar-benar berorientasi pada mutu,” katanya.
Ia menambahkan, mahasiswa tidak hanya membutuhkan program studi baru, tetapi jaminan mutu pendidikan, fasilitas layak, dosen profesional, dan kejelasan prospek masa depan.
“Membuka program studi adalah awal. Menjamin kualitasnya adalah tanggung jawab,” tutupnya.
Laporan : Agen 014 Wildan

























