Penulis : Doktor Sulihin M.Pd

 
SPIONASE-NEWS.COM,- OPINI – Memisahkan “merakyat” dari “kapasitas, gagasan, dan prestasi” seolah keduanya saling bertentangan, justru melupakan inti kepemimpinan itu sendiri. Merakyat bukan lawan kapasitas ia adalah bentuk tertinggi kapasitas

Pernyataan bahwa ketika sensasi “merakyat” lebih dominan daripada kapasitas, maka yang dibangun adalah citra ini adalah penafsiran yang sempit. Merakyat bukan sekadar gaya tampil, merakyat adalah kemampuan mendengar, memahami, dan menempatkan kebutuhan rakyat di atas segalanya.

Itu bukan hal yang ringan atau sekadar pencitraan. Itu adalah kecerdasan emosional dan sosial yang justru menjadi bagian terbesar dari kapasitas seorang pemimpin. Tanpa kemampuan merakyat, sehebat apa pun gagasan pemimpin bisa menjadi angin lalu, tidak dipahami, tidak dirasakan, tidak dijalankan oleh rakyat. Kapasitas tanpa merakyat adalah kekuatan tanpa arah.

Dekat dengan rakyat bukan “menciptakan kesan”  itu membangun kepercayaan. Benar, pemimpin sejati menciptakan perubahan, bukan sekadar kesan. Tapi kita lupa bahwa perubahan yang langgeng hanya lahir dari kepercayaan.

Dan kepercayaan tidak bisa dibangun dari atas panggung, dari balik meja kerja, atau dari jarak yang jauh. Ia lahir ketika pemimpin hadir, mendengar, berbagi ruang  ketika ia “merakyat”.

Jika kehadiran bersama rakyat dianggap sekadar “kesan”, maka kita sedang merendahkan nilai kebersamaan. Keputusan yang berdampak besar lahir dari pemimpin yang dekat, bukan yang jauh. Karena hanya dengan dekat, ia tahu mana dampak yang benar-benar dibutuhkan, dan mana yang hanya dianggap baik di atas kertas.

Karya yang besar tapi lahir tanpa memahami rakyat, pada akhirnya hanya menjadi kemasan yang tidak berisi. Sebuah kebijakan bisa sangat cerdas secara teknis, sangat hebat secara angka, tapi jika ia tidak tumbuh dari jiwa rakyat, ia akan asing di mata mereka  dan pada akhirnya tidak akan berakar.

Banyak pemimpin yang berprestasi secara statistik, tapi jauh dari hati rakyat dan di situlah prestasi itu perlahan lenyap. Gaya yang merakyat bukan kemasan, ia adalah wadah agar karya itu bisa diterima, hidup, dan berkembang di tengah masyarakat.

Kita tidak harus memilih antara “merakyat” atau “berkarya”. Sebaliknya merakyatlah agar karya itu tepat, dan berkaryalah agar kedekatan itu bermakna. Memisahkan keduanya seolah satu adalah citra dan satu lagi adalah kepemimpinan, justru memecah belah keutuhan kepemimpinan.

Pemimpin yang sempurna adalah yang hatinya merakyat, pikirannya berkapasitas, dan tangannya menghasilkan karya. Bukan salah satu melainkan keduanya.

Laporan : Agen 015 Alfin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here