
Oleh: Muh. Wildan Rafzanjaningrat
Kepala Biro Spionase-News.Com Kabupaten Enrekang
SPIONASE-NEWS.COM,- OPINI — Status Kabupaten Enrekang yang masih bertengger di empat besar kabupaten termiskin di Sulawesi Selatan adalah sebuah “alarm keras” yang tidak boleh kita abaikan.
Meskipun terdapat tren penurunan angka kemiskinan dari 11,25% pada tahun 2024 menjadi 10,73% pada tahun 2025, fakta bahwa Enrekang masih berada di zona merah ketimpangan menunjukkan bahwa upaya pengentasan kemiskinan selama ini belum cukup transformatif.
Kita membutuhkan langkah yang lebih terukur, inovatif, dan berkelanjutan, bukan sekadar rutinitas administratif.
Namun, di balik angka kemiskinan yang mengkhawatirkan tersebut, muncul sebuah paradoks data yang membingungkan. Di lapangan, aktivitas ekonomi terlihat cukup dinamis. Sektor pertanian, khususnya hortikultura bawang merah dan sayuran, menyerap tenaga kerja secara masif.
Ibu-ibu rumah tangga hingga pemuda banyak yang bekerja sebagai buruh harian di lahan pertanian. Hal ini tercermin dari data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Enrekang yang justru termasuk terendah di Sulsel, yakni 1,51% pada 2024 dan 1,78% pada 2025.
Lebih membingungkan lagi, pertumbuhan ekonomi Enrekang juga menunjukkan tren positif, naik dari 4,54% di tahun 2024 menjadi 4,67% di tahun 2025.
Lantas, muncul pertanyaan kritis: Bagaimana mungkin daerah dengan tingkat pengangguran rendah dan pertumbuhan ekonomi positif, namun masih menyandang predikat sebagai salah satu daerah termiskin?
Ada dua kemungkinan jawaban atas teka-teki ini. Pertama, adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi makro dengan kesejahteraan mikro masyarakat. Kedua, isu akurasi data.
Apakah pemerintah daerah telah melakukan pemutakhiran data kemiskinan dengan serius dan transparan? Ataukah ada ketidakpahaman dalam membaca indikator kesejahteraan yang sebenarnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dijawab, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk menemukan akar masalah yang sesungguhnya.
Potensi Besar, Nilai Tambah Minim
Di balik tantangan statistik tersebut, Enrekang sesungguhnya duduk di atas modal pembangunan yang sangat besar. Sebagai sentra hortikultura, peternakan, dan destinasi wisata alam, potensi ekonomi Enrekang sangat nyata. Namun, potensi ini belum sepenuhnya berbuah manis bagi kantong masyarakat lokal.
Masalah utamanya terletak pada rantai nilai. Sebagian besar hasil pertanian Enrekang masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah (raw material). Akibatnya, nilai tambah ekonomi yang seharusnya menjadi sumber kekayaan utama justru dinikmati oleh pihak luar daerah atau tengkulak, sementara petani lokal hanya mendapat sisa-sisa keuntungan yang minim.
Petani kita masih terjebak sebagai pemasok bahan baku, bukan sebagai pelaku usaha yang mandiri dan sejahtera.
Strategi Bangkit: Dari Produksi ke Hilirisasi
Inilah saatnya pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan mengubah paradigma pembangunan. Fokus tidak boleh lagi hanya pada “berapa ton produksi”, tetapi “berapa besar nilai tambah yang didapat masyarakat”. Beberapa langkah strategis yang mendesak untuk dilakukan:
1. Hilirisasi dan Industri Pengolahan: Dorong pembangunan industri pengolahan hasil pertanian skala kecil-menengah. Bawang tidak hanya dijual basah, tapi bisa diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi. Ini akan membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan petani.
2. Penguatan UMKM dan Digitalisasi: Petani dan pelaku UMKM harus dibekali kemampuan pemasaran digital. Akses pasar yang lebih luas melalui platform digital akan memutus ketergantungan pada tengkulak dan memberikan harga yang lebih adil.
3. Akurasi Data sebagai Fondasi Kebijakan: Program bantuan sosial dan pengentasan kemiskinan hanya akan efektif jika datanya valid. Sinkronisasi data antarinstansi dan evaluasi berkala terhadap penerima manfaat mutlak diperlukan agar bantuan tepat sasaran kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan berdasarkan kedekatan politik atau kesalahan administrasi.
4. Infrastruktur Pendukung Ekonomi: Pembangunan jalan produksi, jaringan irigasi, dan akses internet harus diprioritaskan. Infrastruktur yang baik akan menekan biaya logistik, meningkatkan efisiensi produksi, dan membuka isolasi daerah-daerah potensial.
Sinergi, Bukan Polaritas
Enrekang memerlukan keberanian untuk berinovasi. Potensi wisata berbasis alam dan ekonomi kreatif harus digarap serius sebagai alternatif pendapatan selain pertanian. Namun, inovasi ini tidak bisa berjalan sendiri.
Media, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan pemerintah harus memperkuat sinergi. Kritik dari media dan akademisi harus diterima sebagai bahan evaluasi konstruktif, bukan serangan pribadi. Sebaliknya, pemerintah harus terbuka terhadap masukan dan proaktif dalam menjelaskan kebijakan. Masyarakat tidak butuh adu domba atau saling menyalahkan; mereka butuh solusi nyata.
Penutup
Masuknya Enrekang dalam kategori daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi bukanlah vonis mati, melainkan momentum untuk introspeksi kolektif. Dengan kepemimpinan yang responsif, kebijakan berbasis data yang akurat, serta kolaborasi semua pihak, Enrekang memiliki peluang besar untuk keluar dari jerat kemiskinan struktural.
Keberhasilan pembangunan tidak diukur dari ramainya seremonial peluncuran program, melainkan dari seberapa signifikan angka kemiskinan turun dan seberapa nyata kesejahteraan meningkat di meja makan setiap keluarga Enrekang, Alarm ini sudah berbunyi. Sekarang, giliran kita menjawabnya dengan kerja nyata.
Laporan : Agen 015 Alfin

























