SPIONASE-NEWS.COM,- ENREKANG — Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan dan tindakan nyata. Semangat tersebut ditunjukkan oleh SMP Negeri 4 Anggeraja, Kabupaten Enrekang, melalui gerakan pemilahan sampah di lingkungan sekolah.

Upaya tersebut menjadi langkah positif dalam membangun budaya peduli lingkungan sekaligus menanamkan karakter disiplin dan tanggung jawab kepada para peserta didik. Rabu (16/09/2026).

Pemilahan sampah sejak dari sumbernya menjadi bagian penting dalam pengelolaan lingkungan. Sampah yang selama ini sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak bernilai, pada dasarnya masih dapat dimanfaatkan apabila dipisahkan dan dikelola dengan baik.

Melalui kegiatan tersebut, para siswa didorong untuk mengenali jenis sampah dan membiasakan diri menempatkan sampah sesuai kategorinya. Kebiasaan sederhana ini diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga terbawa ke rumah dan lingkungan masyarakat.

Lebih dari sekadar menjaga kebersihan, gerakan pilah sampah merupakan bagian dari pendidikan karakter. Siswa belajar tentang kedisiplinan, kepedulian, tanggung jawab, serta pentingnya mengambil peran dalam menjaga lingkungan.

Guru Penggerak: Membentuk Kebiasaan dari Lingkungan Sekolah

Salah satu guru yang turut menjadi penggerak dalam membangun kepedulian lingkungan di SMP Negeri 4 Anggeraja, Ibu Syamsuarti Atty, menilai bahwa gerakan memilah sampah harus dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.

Menurutnya, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya memberikan pemahaman kepada siswa, tetapi harus diikuti dengan contoh dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

«“Kesan saya, ketika anak-anak mulai terbiasa memilah sampah, kita melihat ada perubahan kecil yang sebenarnya memiliki makna besar. Mereka mulai memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab kita bersama,” ujar Syamsuarti Atty.»

Ia berharap gerakan tersebut dapat terus berkembang dan menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan warga sekolah.

«“Harapan saya, kebiasaan ini tidak hanya dilakukan di sekolah. Anak-anak bisa membawa kesadaran ini ke rumah dan lingkungan masyarakat, sehingga dari hal sederhana kita bisa membangun kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan,” harapnya.»

Langkah ini juga membuka pemahaman bahwa pengelolaan sampah memiliki dimensi sosial dan ekonomi. Sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kertas dan berbagai material lainnya dapat dikumpulkan untuk kemudian dikelola atau dimanfaatkan kembali.

Sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran tersebut. Sebab, perubahan perilaku terhadap lingkungan akan lebih mudah tumbuh ketika diperkenalkan sejak usia sekolah dan dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang dilakukan SMP Negeri 4 Anggeraja menjadi contoh bahwa gerakan peduli lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana. Tidak harus menunggu program besar, tetapi dimulai dari kesadaran setiap individu untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya.

Di tengah persoalan sampah yang semakin membutuhkan perhatian bersama, keterlibatan institusi pendidikan menjadi sangat penting. Sekolah bukan hanya tempat membentuk kecerdasan akademik, tetapi juga ruang untuk membangun generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

Dengan konsistensi serta dukungan seluruh warga sekolah, gerakan pilah sampah di SMP Negeri 4 Anggeraja diharapkan dapat berkembang menjadi budaya sekolah yang berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan di Kabupaten Enrekang.

Dari sekolah, kesadaran lingkungan ditanamkan. Dari kebiasaan memilah sampah, perubahan dimulai.

Laporan Agen : 015 Alf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here